Rabu, 28 November 2012

Persembunyian hati

Aku gila dengan perasaan ini
Aku mati di dalam diam
Aku terlena di dalam mimpi
dan aku terjebak dalam dustaku sendiri
Kumohon keluarkan aku dari semua ini
Di dalam kebimbanganku
Ku lihat dua sosok yang menusuk ruang hatiku
Satu ruang kosong dan satu ruang yang lama
Entah kapan akan kuakhiri drama ini
Drama kemunafikan dengan diriku sendiri
Kisah lalu dan kisah baru
Bercampur padu dalam rasa ragu
Bagiku terangmu adalah gelapku
Tawamu adalah tangisku dan
Cintamu adalah kemunafikanku
Harpku tak bersanding dalam keraguan
Inginku, drama ini segera berlalu.....

Minggu, 23 September 2012

Tak Sampai


Aku berdiri disini.....
Masih di tempat yang sama saat kita bertemu....
Kakiku sulit beranjak dari tempat ini
Meski lelah mulai menjalar di tubuhku, aku tidak peduli
Matahari sudah tenggelam
Namun aku belum tenggelam, masih tetap bertahan
Ku menanti seseorang nun jauh di sana
Seseorang yang telah berjanji akan menemuiku

Lima tahun yang lalu
Sebelum bencana itu datang
Sebelum ombak itu membawanya pergi jauh
Sebelum sempat aku mengatakan padanya
Bahwa aku ingin hidup bersamanya
Jeritku dalam hati
Kenapa kau tak mengajakku pergi bersamamu
Hingga kita akan terus bersama
Kenapa tidak aku saja
Yang harus meninggalkanmu

Angin menerpa wajah polosku
Rintik-rintik air mulai membasahi kulit
Aku tidak bergeming
Hingga tubuhku terasa lemas
Aku terjatuh ....
Hamparan pasir putih menerpa tubuhku
Sebelum menutup mata
Aku masih sempat mengingat wajahmu......
Yang memang tak kan pernah datang untukku....

Kamis, 20 September 2012

galau

aku hanya akan berlari dari semua kegilaan
kegilaan yang salah
kegilaan yang sama sekali akupun tak tahu apa itu
terus berpikir keras
namun entah apa yang sedang tersirat di dalam diriku
merasakan kegundahan dan ketakutan yang semakin menjadi
sungguh bosan merasakan seperti ini
tak yahu apa yang terjadi
beban pikiran yang semakin menjadi, merasuk dalam otak-otak
sungguh busuk rasanya jika tak bisa menyikapi hal-hal semacam ini
obsesi dalam hidup, cinta dan prestasi
nilai kehidupan yang harusnya bisa semakin kupahami
namun, tak akan pernah aku mengerti
apa arti dari semua beban ini?
sungguh aku ingin berontak, berteriak dan menangis
dengan hal yang aku rasakan saat ini, yang bahkan aku sendiri tidak tahu beban apa yang sedang kugantungkan?
diantara obsesi dan ketakutan aku terperosok
hingga diriku tak peka apa yang sedang terjadi
sungguh apakah hanya kesengan yang selama ini mengganggu pikiranku
hingga hal seperti ini saja aku menyerah pada keadaan?
entahlah, yang jelas aku telah mengalami kepahitan, dan sejujurnya aku ingin mencicipi manisnya kebahagiaan...
akankah bisa aku dapatkan itu?
aku gila....sungguh hanya itu yang ingin kuteriakkan, disaat semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan aku menahan semua beban ini sendiri....
di saat tangis hanya bisa membasahi pipiku....
sungguh aku hanya ingin semua orang berhenti bertanya dan berhenti menyuruhku!!!
aku ingin hidup dengan ketenangan yang aku inginkan!
TOLONG KEMBALIKAN WAKTUKU, BIARKAN AKU SELESAIKAN PIKIRAN-PIKIRAN BODOH INI!

Sabtu, 08 September 2012

Bimbang

Tuhan akankah rasa yang kumiliki akan abadi di dalam hatiku
Tuhan akankah dia orang yang tepat untuk ku cintai
Tuhan akankah aku bertahan dengannya
Aku merasakan suatu hal yang berbeda terhadapnya
Rasaku pun tak dapat ku pungkiri
Maafkan aku jika tak bisa sembunyikan asa yang membuncah ini
Akankah aku merasakan tahu diri dengan berharap terus menerus kau akan datang padaku kembali
Akankah dia kembali datang padaku?
Akankah aku bisa menerimanya kembali saat aku mulai meninggalkan kenangan masa lalu...

Rabu, 25 April 2012

Masa Lalu

setidaknya aku masih di sini
setidaknya aku masih dapat bernafas
di atas puing-puing reruntuhan hati yang tlah pecah
terseok-seok terbawa air dan angin
mengikuti mereka tanpa pandangan
hingga aku berhenti di suatu tempat
tempat yang indah, sebuah taman bunga
aku melihat sejauh mana aku tlah pergi
pandangku selalu sama
di ujung hamparan bunga selalu ada padang gersang nan panas
aku masih ingin melihatnya
walaupun padang itu tlah menutup dan merusak hamparan bunga-bunga segar
apa daya, aku tak bisa jauh melangkah
satu dua tiga langkah terhenti
lagi-lagi menoleh ke belakang
berjalan lagi....
dan menoleh lagi...
dan yang terjadi, aku takkan pernah terlepas
aku ingin kembali pada padang gersang itu...
aku masih ingin menyiraminya dengan air cinta
berusaha dan terus mencoba menanam bibit cinta di tanah gersang...
padahal aku tahu padang itu takkan berubah menjadi taman bunga,
aku hanya bisa menunggu keajaiban...
yang selalu kunanti demi keyakinan ini....

Kamis, 05 April 2012

Nyanyian Pilu


Kata manis terucap mengalun dengan indah....
Menembus hati manusia....
Terdengar merdu di telinga para hawa....
Nyanyian yang meluluhkan...
Sayup-sayup terdengar mengerikan....
Takut akan kata-kata sayang...
Takut akan kata-kata rindu....
Namun,
Melemahkan hati para hawa....
Mengalun tenang bagai  butiran embun, menyejukkan...
Berkumandang mesra, penuh makna.....
Nyanyian cinta itu...
Dekat...semakin dekat....dan...
Menusuk kalbu....
Hilang akal sehat....

Dan tiba-tiba...
Menusuk!
Menohok penuh kejam!
Sakit....sakit...dan sakit....!
Tak punya perasaan...!
Bodoh....!
Tak tahu diri...!
Mengusik kembali sisa-sisa luka masa lalu....
Menorehkan kecewa...
Membasahi  pipi, menetes tanpa dosa...
Hanya karena seorang adam...
Bodoh...
Pecundang....
Nyanyian itu berubah menjadi suara memilukan...
Menjerit....
Meraung....
Melawan...
Tak ada daya, upaya, dan smua tlah sia-sia....

Rabu, 28 Maret 2012

Pandangan Pertama

Ketika sepi menyapa....
Ketika hati sudah tak mampu mencinta....
Luka yang ada terlalu dalam....
Hingga saat ini belum mampu ubah semua
Ku lihat seseorang yang jauh di sana
Pandanganku pun terhenti...
Sosok itu mengingatkan aku pada seseorang jauh di masa lalu...
Memandangnya secara perlahan, namun pasti...
Mencoba mencari tahu sosok itu...
Sosok yang kini, memberikan warna di hidupku...
Ingin aku lebih dekat
Ingin aku mengenalnya
Ingin aku menyapanya
Namun,
hanya diam yang bisa kulakukan
Melihatnya sudah cukup bagiku
Walau aku tak bisa sembunyikan asa yang membuncah
Tutur katanya ....
Matanya....
Cara dia memandang....
Sungguh membuat tenang....
Pandangan pertama yang aku rasakan sungguh indah...
Ingin aku lebih dekat dengannya.....
Entah, bagaimanapun caranya....
Pandangan pertama yang tidak salah untuk membuatku jatuh cinta kepadanya....

Jumat, 16 Maret 2012

Mudah Saja

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku berdoa semoga saja
Ini terbaik untuknya
Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku
Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku
Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku
Mudah saja…

Sheila On 7 "Mudah Saja"

Rabu, 14 Maret 2012

Berakhir

Semua terasa seperti mimpi buruk
ketika aku tahu , aku sudah tak berada di hatimu
Hari ini terasa berat, saat aku membuka kembali kenangan-kenangan itu
Berusaha tegar, tapi aku tak mampu
Berdiri tetap di sini, tanpa ada yang bisa dilakukan
Menatap dunia yang seakan menerkam
Menatap awan yang tak berhenti bergerak
Berusaha untuk pejamkan mata dan melupakannya sejenak
Namun, tetap tak bisa.....!
Aku ingin bangkit dari luka ini, tapi kenapa begitu sulit?
Aku ingin bahagia, walaupun harus jalani hari ini sendiri...
Dulu, aku tegar
Dulu, aku ceria
Aku mampu menguasai hatiku
Tapi kini, aku terpuruk
Terpuruk untuk kedua kalinya...
Aku berusaha bangkit,
namun, aku terjatuh lagi
serasa aku tak mau untuk bergerak menjauh...
Kini hati yang menguasaiku
Aku tak bisa berbohong lagi...
Aku tak bisa mengkhianati hatiku....
Dia telah menguasaiku,
Dan aku hanya bisa terdiam,
melihat semua terjadi dan berlalu
Dengan mudah kau katakan "perpisahan"
tanpa sempat aku mengucapkan kata-kata terindah.....
Aku takut perpisahan ini,
Aku takut di masa depan nanti aku tak bisa berjumpa denganmu lagi....
Aku takut memulai kisah cinta dengan yang lain...
Belum jugakah kau mengerti, apa yang ada di dalam hatiku?
Belum jugakah kau merasakan tangisku?
Bodoh ! Jahat ! Tak tahu diri !
Aku yang berusaha untuk slalu jadi yang terbaik buatmu...
Aku yang selalu berjanji untuk menjaga hati ini untukmu...
Belum jugakah kau menyadarinya ??
Aku yang di sini berusaha bertahan untukmu....
Aku yang slalu berusaha mengerti dirimu....
Berusaha untuk slalu berada di sisimu saat kau membutuhkanku.....
Aku yang di sini setia menunggumu, walau kau tak pernah datang menemuiku....
Aku yang rela di caci karena kebodohanku mencintaimu !
Dan kini semua telah terbayarkan,
Semua telah berakhir,
Aku yang kini menjadi orang bodoh, karena diriku sendiri.....


Ku Yakin Bisa

selepas kau tinggalkanku
hilang semua bebanku
tuk selalu yakinkanku
bahwa kau hanyalah untukku selamanya
aku yakin bisa di sini tanpamu
aku yakin bisa dapat penggantimu
aku yakin bisa oh bahagia
ku yakin bisa
kejam kau kepadaku
kau mengkhianatiku
salahku memilihmu
di antara mereka dulu ku keliru
aku yakin bisa di sini tanpamu
aku yakin bisa dapat penggantimu
aku yakin bisa oh bahagia
ku yakin bisa, bisa
aku yakin bisa di sini tanpamu
aku yakin bisa dapat penggantimu
aku yakin bisa oh bahagia
ku yakin bisa, bisa
aku bisa di sini tanpamu
dapat penggantimu
aku yakin bisa oh bahagia
ku yakin bisa, bisa
aku bisa, bisa, aku bisa

"Ku Yakin Bisa", by Nyawa Band

Ketika

Ketika itu kau datang, menghadirkan begitu banyak harapan....
Seolah tenang kau memasuki hidupku....
Kau berhasil sembuhkan lukaku...
Kau berhasil membuatku melupakan kenangan pahit itu
dan kau berhasil membuatku jatuh cinta.....
Aku tahu mencintaimu bukanlah hal yang mudah,
ketika ada seseorang yang juga telah memasuki kehidupanku secara perlahan,
Aku tahu pasti ada yang terluka,
dan itu pasti terjadi,
Saat itu aku memutuskan memilihmu,
kau telah lama mengisi separuh hatiku
Dan aku menyambut semua dengan baik
dengan senyuman,
dengan cinta,
dan dengan beribu pengertian.
Aku yakin dan aku selalu berharap kau yang terbaik dan kau yang terakhir
di sini......di hatiku.....
Dan ketika rasa kecewa perlahan menghampiriku
aku berusaha menepis.nya, bertahan demi cinta
aku yakin semua akan terselesaikan dengan baik, dan itu benar.
Namun, suatu saat ketika rasa kecewa itu tak bisa dibendung lagi, aku tahu kau pasti merasakan hal yang sama dan kau tak mau membuatku lebih terluka dari ini,,
Dan ketika 'berpisah' adalah jalan yang terbaik,
kita akan saling mengerti.....
tapi, tak bisa aku bendung air mata yang mulai menetes, dan tiba-tiba mengalir begitu deras,
aku terluka, ya.... itu yang harus kurasakan lagi,
aku bersalah, dan itu yang lagi-lagi harus aku lakukan
Keputusanmu sama saja menggoreskan luka lama,
sama saja membuatku hancur,
dan lebih hancur lagi ketika kau tak lagi peduli dengan perasaanku ini....
Sungguh ingin aku pergi sejauh-jauhnya bersembunyi di tempat yang paling gelap,
hingga tak ada yang tahu kecewanya hatiku, sakit.nya aku....
Aku tahu tak sepantasnya aku bersedih,
namun, aku telah jauh melangkah,
aku terlambat untuk tahu bahwa jalanku bukan lurus terhadapmu.,
dan kini juga terlambat untuk menyudahi semuanya,
aku telah masuk dalam kehidupanmu,
dan kau telah mengisi satu ruang di hatiku.....
Aku menyayangimu dengan sederhana, dengan cinta yang sederhana...
Berharap kau yang terbaik selamanya, dan itu benar,
Dan kini Aku tetap mencintaimu dengan sederhana,
Aku hanya ingin membuatmu bahagia tapi tidak denganku,
Aku cukup melihat senyummu dari kejauhan,
seperti dulu lagi, aku serasa memilikimu, walaupun itu hanya sebuah fatamorgana
Aku yakin , aku bisa mencintaimu lagi......dengan lebih baik....
Dan cinta ini akan aku jaga sampai nanti, ketika tangan Allah mengizinkan kita untuk bersama lagi, menyatukan kita menjadi dua manusia yang saling melengkapi satu sama lain,
Yakinlah kau masih di sini... di dalam hatiku......
Dengan cinta yang sederhana.... 

Selasa, 06 Maret 2012

Kesalahan

Kau tahu......
Kau begitu indah.....
Rupamu sugguh elok.....
Akhlak.mu mulia.....
Agamamu sungguh baik.....
Sifatmu ramah dan ceria.....
Senyummu membuatku terpesona....
Kau pandai dalam segala hal....
Suka menolong......
Tapi tahukah kau? Segala kelebihan.mu itu membuat orang lain terluka.....
Ya.....terluka,...terluka karena menyukaimu......
Bukan salahmu memiliki semua itu,,,,juga bukan salahku!
Ini semua kesalahan waktu! Mengapa waktu tak membiarkan kita bertemu lebih awal.......
Dan kini waktu......membuat kita hanya terdiam....,,,

Coretan

Ketika pertama aku melihat sosokmu
Biasa saja.....
Lama-lama aku melihatmu lebih dalam
Lama-lama aku mulai berani memandangmu
Dan aku mulai memperhatikan tingkahmu
Teringat tentangmu, aku tersenyum
Mulai membicarakanmu, dan lama-lama setiap hariku penuh dengan cerita tentang kamu
Dan akhirnya aku tahu bahwa aku tertarik pada dirimu
Dan aku mulai menyukaimu
Dan ketika kau bersama yang lain,
Aku benar-benar tersadar bahwa aku merasakan sebuah rasa yang asing di hati.....
Orang menyebut.nya "Cemburu"
"Benarkah aku cemburu? Sungguh ?"
Aku mebenarkan kata hatiku, aku tidak ingin mencintainya......
Namun, rasa itu tetap bertahan......bertahan disini....
Di hatiku......
Coba ku telusuri kembali celah rasa di hatiku......
Tapi tak kutemukan, semua penuh dengan rasa yang disebut "Cinta"
Aku kembali berjalan.....dan berjalan, namun yang kutemukan hanya sosokmu.......
Aku berhenti, aku lelah dan aku menyerah.....
Tak kutemukan sosok nyata darimu di kehidupanku.........
Yang kutemui hanyalah fatamorgana dirimu.......
Ku coba untuk mencari kepastian akan dirimu....
Aku mencoba menunggu, dan menunggu......
Sangat lama dan melelahkan........
Tiba waktu.ku di ujung penantian.....
Bersiap aku untuk melepaskan harapan semu itu........
Dan aku melangkah pergi menuju jalan yang lain....
Tiba-tiba aku tersentak, aku melihat sosokmu kembali....
Aku bergumam "Apa lagi ini.....?"
Ku coba menepis ia dari hadap.ku...Namun,
dia tidak bergeming dan dia terlihat nyata....
Dia ada di hadap.ku......
Di ujung penantian....., bahagia menjemputku.....
Membayar habis penantianku

Sisi Lain Sebuah Rasa

Ketika sepi menyelimuti dan aku mulai merasakan kegundahan hati
Mencoba menyibak awan hitam di dalam hati
Terdiam di sini, masih di sini
Mengingat semua memori
Dan yang ku lihat di sana adalah kamu
Coba menepisnya
Coba menghilangkannya
Namun, tetap tak bisa
Aku luluh, aku lemah melihat matanya
Aku terisak , mencoba melawan emosi
Namun, tak kutemukan jalan ke luar dari hatinya
Aku merasa harus pergi
Namun, aku masih ingin tinggal
Kekuatan emosi terlalu kuat
Rasa yang ada terlalu indah
Membuat aku terjatuh , terlalu dalam
Sulit untuk keluar, meski sesak di dada
Masa-masa sulit yang menghidupkan kembali memori itu
Dimana aku begitu sulit
Dimana aku harus berjuang
Menangkap sebuah fatamorgana
Yang jelas hanya sebuah bayangan semu
Dan ketika aku berhasil membuatnya nyata,
Aku terjatuh kembali, terbohongi oleh sebuah fatamorgana
Ku coba untuk tetap berdiri dan menatapnya
Melihat jelas tatapannya
Yang membuatku tahu bagaimana kesungguhan hatinya....

Ceritaku

Sayangnya aku bukan wanita istimewa
Bukan wanita idaman pria
Tapi aku berhak mendapat cinta
dari seorang pria sederhana
Dimana dialah pelipur lara
Tempatku bercerita suka dan duka
Aku ingin mendampinginya
Aku ingin jadi masa depannya
Walaupun aku bukan wanita istimewa,
namun saat bersamanya aku merasa istimewa
Sungguh aku merasa bahagia
Namun, aku terlambat untuk tahu,
bahwa jalannya bukan lurus padaku
Dan, maaf....
aku terlambat untuk tahu itu.....

Sabtu, 03 Maret 2012

Satu di Dunia

Aku tidak ingin ada dalam tawamu
karena pasti kau tidak membutuhkanku
Aku ingin ada dalam tangismu
karena pasti kau membutuhkanku
Meski aku selalu tak peduli
Tapi aku ingin kau tahu
Aku tak kan membiarkanmu disakiti
Aku tak kan membiarkanmu menangis
Sulit menemukan seseorang yang sepertimu
Dari ribuan teman facebook
Dari ribuan teman twitter
Mungkin tak bisa kutemukan yang sepertimu
Maafkan aku sobat, jika aku tak selalu ada untukmu
Maafkan aku jika aku merasa bosan mendengar celotehmu
Karena,
Aku tidak bisa standbay layaknya komputer yang siap pakai
Aku juga bukan tiang kukuh yang bisa menyanggamu setiap saat
Tapi percayalah kau bisa mengandalkanku
Terima kasih atas waktumu
Terima kasih atas nasehatmu
Semoga tali yang kita pegang erat-erat akan selalu mengikat persahabatan kita....
Walaupun ada perpisahan
Kuharap kita bisa bertemu kembali di masa depan dengan senyuman......

Kamis, 16 Februari 2012

Kenangan Abadi


Adzan shubuh sudah menggema di masjid At-Taqwa,Anisa segera bergegas pergi menuju ke masjid,padahal udara pagi itu sangat dingin.Sampai di masjid dia segera mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah.Setelah selesai menunaikan sholat shubuh Anisa kembali ke rumah,dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.Anisa duduk di kelas XI.IPA,tepatnya di SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO.Karena jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.
            Tak lama kemudian Anisa telah siap untuk berangkat ke sekolah,lalu dia menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orangtuanya.
“Nis...nanti kamu bawa bekal ya,biar kalau pulang sore tidak telat makan.”ucap Ibu sambil menyerahkan kotak makan.
“Baik bu,oh iya Anis minta izin pulang terlambat,rencananya nanti sepulang sekolah aku akan mengikuti bimbingan menulis.”ucap Anisa
“Buat apa kamu ikut bimbingan menulis seperti itu? Yang penting kamu sekolah dulu yang sungguh-sungguh lalu kerja cari uang,membantu bapak dan ibumu yang sudah tua.”kata bapak
“Pak...itu kan buat nambah pengalaman lagi pula kegiatan seperti itu tidak mengganggu belajar Anis,Pak....”terang Anisa
“Bapak tidak setuju kalau kamu jadi penulis!Penulis itu seperti orang tidak punya kerjaan.”kata Bapak tidak setuju.
“Pak...kata guru Anis,menulis itu bisa menghasilkan uang,lagipula menulis itu menyenangkan Pak....”bela Anisa
“Pokoknya bapak tidak setuju!”bentak bapak
            Anisa hanya diam mendengar ketidaksetujuan Bapaknya.Lalu dia bergegas berangkat ke sekolah.
***
Dengan hati yang tidak karuan dia berjalan menuju kelas,ditengah  jalan dengan tidak sengaja Anisa menabrak seorang cowok hingga membuat buku yang di bawa Anisa berjatuhan.
“Maaf......maaf aku tidak sengaja?”ucap cowok tersebut sambil membantu Anisa membereskan buku yang berserakan.
“Tidak apa-apa aku yang ceroboh”ucap Anisa dengan lembut.
Cowok tersebut lalu bergegas meninggalkan Anisa.Kemudian Anisa bergegas masuk ke dalam ruang bahasa Arab.
“Sudahkah kamu mengerjakan PR?”tanya Dewi.
“Sudah semalam”jawab Anisa
“Tampaknya hari ini kamu sedang tidak bersemangat? Ada apa gerangan?”tanya Dewi ingin tahu.
“Bapakku tidak setuju Wi,jika aku ikut bimbingan menulis”ucap Anisa
“Hm....mungkin bapakmu belum tahu lebih dalam tentang penulis itu,jadi bapakmu belum yakin.”ujar Dewi menasehati.
            Bel berbunyi,Ustadzah Erfika telah masuk ke dalam kelas.Namun,dia tidak sendirian di belakangnya ada seoarang cowok,nampaknya dia anak baru.Anisa terkejut ketika cowok itu menuju ke bangkunya dan duduk di sampingnya.Setengah jam berlalu mereka hanya diam,tanpa mengatakan sepatah katapun,lalu Anisa angkat bicara.
“Siapa namamu?”tanya Anisa
“Amar,kalau kamu siapa?
“Anisa,senang berkenalan denganmu Amar.”
“Ia,semoga kita bisa berteman baik.”
***
            Pelajaran bahasa Arab pun telah usai,bel istirahat berbunyi aku bergegas mengambil mukena dan menuju ke masjid untuk sholat dhuha.Aku memang terbiasa melaksanakan sholat dhuha,apalagi saat ini fikiranku sedang kacau,teringat kata-kat bapak yang tidak mengizinkan aku menjadi penulis.Sampai di masjid aku segera mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat dhuha.Seusai sholat Anisa masih duduk terdiam di masjid sambil menenangkan diri,Dia bingung apakah dia harus berhenti berangan-angan jadi penulis demi orang tuanya atau membantah orang tuanya dan tetap menjadi penulis.Selama ini dia tidak pernah mengecewakan keinginan orang tuanya, apakah sekarang dia harus  membantah orang tuanya demi menjadi seorang penulis? Anisa sangat bingung,dia berdoa kepada Allah dan memohon yang terbaik.
***
            Sepulang sekolah Anisa tetap mengikuti pelatihan menulis,meskipun dia ragu.Saat pelatihan berlangsung Anisa sangat memperhatikan apa yang di sampaikan oleh Pembimbing.Rupanya keinginannya untuk menjadi penulis sangat besar.Setelah pelatihan selesai Anisa bergegas pulang karena hari sudah sore,dia takut terkena marah bapaknya.
            Sampai di rumah,bapak sedang duduk di teras bersama ibu.Perasaanku sudah tidak karuan,aku yakin bapak akan bertanya macam-macam padaku.
“Assalamualaikum”ucap Anisa
“Waalaikum salam”ucap bapak dan ibu serempak.
“Dari mana pulang sesore ini? Bimbingan menulis?”tanya bapak
“I...iya pak.”ucap Anisa gugup
“Bapak tidak mengizinkan kamu jadi penulis,kenapa kamu masih membantah bapak?”
“Maafkan Anisa pak,keinginan Anisa menjadi penulis terlalu besar,hingga membuat Anis tidak bisa menuruti ucapan bapak.”ucap Anisa sambil terisak
“Terserah kamu,bapak sudah menyarankan jalan yang terbaik buat hidupmu kelak,tapi kamu justru memilih jalan lain.”ucap bapak lalu masuk ke dalam rumah.
“Yang sabar Nis,ibu tahu keinginan kamu menjadi penulis sangat besar.Sabarlah sedikit tunggu sampai hati bapakmu tenang,lalu kamu bicara baik-baik padanya”ucap ibu menenangkan Anisa
“Iya bu,ya sudah Anisa pergi mandi dulu lalu sholat ashar.”
            Setelah selesai sholat Anisa mengambil buku dan alat tulis,kemudian dia pergi ke sawah,di sana ada sebuah rumah bambu tempat dia menghabiskan waktu sepulang sekolah,lagipula Anisa sudah lama tidak kesana.Di tempat itu juga setiap sore Anisa selalu mengajar anak-anak kecil untuk mengaji.Sesampainya dia di rumah bambu suasana tampak ceria anak-anak tersebut berlari menghampiri Anisa,perasaan Anisa pun berubah ceria,Arman sahabat Anisa pun ikut senang melihat kedatangan Anisa.
“Tampaknya sudah lama kamu tidak berkunjung ke sini,sedang sibuk ya?”tanya Arman.
“Ia Man...akhir-akhir ini aku cukup sibuk,apalagi aku sedang ada masalah”
“Kalau boleh tahu,masalah apa Nis? Siapa tahu aku bisa membantu...”
“Bapakku tidak setuju kalau aku jadi penulis.”
“Oh itu masalahnya,itu hanya masalah waktu Nis,kalau Bapakmu sudah melihat karya-karyamu pasti dia akan setuju.”
“Ya semoga saja”
“Lama tidak bertemu tampaknya kamu semakin cantik Nis....”
“Terima kasih,kamu itu selalu memperhatikan aku”ucap Anisa tersipu
“Nis...sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini....”
“Hal apa Man?”
“Aku menyukaimu Nis,aku tahu mungkin kamu tidak mau berpacaran,tapi bolehkah aku tahu bagaimana perasaanmu padaku?”
“Arman kita sudah berteman sejak kecil dan perasaanku padamu hanya sebatas teman saja,ku harap kamu mengerti”
“Sama sekali tidak ada perasaan lain?”ucap Arman meyakinkan
“Ia Arman,kau tahu aku tidak akan pacaran dan aku sudah menganggapmu sebagai sahabat”
“Baiklah jika itu keputusanmu,insyaAllah aku akan menerima.”
***
            Hari Minggu pagi matahari bersinar cerah,Anisa akan pergi menemui Amar untuk menyerahkan novel yang telah selesai dia buat.Sejak perkenalan itu Anisa dan Amar memang semakin dekat,banyak kesamaan yang membuat mereka cocok.Amar juga suka menulis,maka dari itu mereka sering bertukar pikiran.Mereka sepakat untuk bertemu di Perpusda, Amar akan membantu Anisa untuk mengirimkan novelnya ke Penerbit.Kebetulan pemilik Penerbitan tersebut adalah Ayah Amar.Sampai di Perpusda ternyata Amar telah berada di sana.
“Hai Amar,maaf sudah membuatmu menunggu?”
“Tidak apa-apa,aku juga baru saja sampai.Mana datanya,biar nanti aku serahakan kepada Ayahku siapa tahu Ayah suka dan mau menerbitkannya.”
“Oh iya ini ada di dalam flashdisk,amin....Semoga bisa di terbitkan.”ucap Anisa sambil menyerahkan flashdisk pada Amar.
“Bagaimana dengan Bapakmu Nis? Apakah dia setuju?”
“Bapakku tidak tahu aku menulis novel,aku pergi kesini juga diam-diam takut di tanya macam-macam.Aku berharap novelku bisa diterbitkan dan Bapakku akan tahu tentang karyaku,tentang cita-citaku dan tekadku yang besar untuk menjadi penulis”
“Iya,aku akan selalu mendoakanmu Nis.Aku yakin setelah novel ini terbit bapakmu pasti akan mengizinkanmu,percayalah.Oh ya aku senang bisa dekat dengan cewek yang pantang menyerah sepertimu.Aku juga senang jika berada di dekatmu,kamu tahu maksudku kan?”
“Memang apa maksudmu? Aku sungguh tak mengerti...”
“Aku menyukaimu Nis... ,sejak kita pertama bertemu.Maukah kamu jadi pacarku Nis?”
Anisa hanya terdiam mendengar ucapan Amar,dia tidak menyangka Amar menyukainya.Jujur Anisa juga menyukai Amar,namun dia tidak bisa bersama Amar karena Anisa tidak akan mau berpacaran.Menurutnya pacaran itu lebih banyak mudhartnya daripada manfaatnya.
“Nis....kamu kenapa?”
“Maaf Mar,aku tidak bisa menerima kamu.Aku tidak suka berpacaran”
“Tapi kamu menyukai aku juga kan? Apa salahnya pacaran,asalkan kita tidak melakukan hal di luar batas kewajaran.”
“Ya, aku memang menyukaimu,tapi maaf  Mar,aku tetap tidak bisa.Kuharap kamu mengerti.Sekarang ini aku ingin fokus pada sekolah dan cita-citaku”
“Tapi aku sungguh mencintai kamu”
“Lebih baik kamu pasrahkan rasa cinta kamu kepada Allah,Dialah yang Maha Mengetahui,kalau kita jodoh pasti Allah akan mempersatukan kita.Ya sudah aku pulang dulu,terima kasih kamu mau membantuku dan aku berharap bantuan kamu itu tulus bukan karena kamu menyukaiku.”
“Baiklah aku terima itu semua dan aku memang tulus membantumu,bukan karena aku ingin mendapatkanmu.”
            Setelah berpamitan .Anisa pergi meninggalkan Amar sendiri.Namun,ketika pulang di jalan dia tidak berkonsentrasi,dia tidak sadar ada mobil yang melaju kencang di belakangnya,mobil itu kemudian menabrak tubuh Anisa,seketika Anisa terlempar ke pinggir jalan dan kepalanya membentur pembatas jalan.Mobil yang menabraknya justru melarikan diri,orang yang melihat kejadian itu langsung menolong dan membawa Anisa ke rumah sakit namun karena pendarahan yang cukup parah nyawa Anisa tidak tertolong.Pihak rumah sakit lalu menghubungi keluarga Anisa,Bapak Anisa begitu terkejut dan tidak percaya bahwa anak semata wayangnya meninggal dengan cara seperti ini.
            Saat pemakaman orang tua dan teman-teman Anisa begitu berduka.Selama ini Anisa dikenal sebagai anak yang baik,sopan dan pantang menyerah.Begitupun dengan Amar dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya sudah tiada.
***
            Sebualan setelah kematian Anisa,novel karya Anisa berhasil di terbitkan dan respon masyarakat sangat baik.Ketika orang tua Anisa mengetahui hal itu,rasa penyesalan menyelimuti Bapak Anisa,kini dia menyadari kekeliruannya yang melarang Anisa untuk jadi seorang penulis,namun apa daya nasi sudah menjadi bubur,menyesal tiada gunanya.Walaupun begitu dia merasakan suatu kebanggaan pada Anisa meskipun kini Anisa telah tiada namun dia meninggalkan karya-karya terbaiknya,berupa goresan tinta dan kata-kata yang indah.Anisa memang telah tiada namun namanya akan terkenang dan menjadi suatu kenangan yang terindah untuk orang-orang yang begitu menyayangi Anisa.......
***

Hijab Ku


Jilbab......
Sesuatu yang tidak asing untuk kaum hawa, kini sebagian besar kaum hawa mengenakan jilbab.Sungguh gembira dengan penampilan remaja kita yang lebih ”hijau” dengan jilbab. Semoga berjilbab terjadi berasal dari kesadaran diri, bukan sekedar  tren. Jadi, jilbab bukan hanya asesoris atau sebagai hiasan saja untuk menutupi kekurangan diri, pastikan bahwa nilai islam juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku kita. Bila tidak bisa-bisa kita terpeleset pada perilaku negatif. Acapkali terjadi jilbab atau asesoris islam mendapat citra negatif karena ulah kita sendiri. ”Ah, yang pake jilbab aja pacarannya kuat” atau “Ah pakai jilbab hanya di sekolah, di luar sekolah ya sudah membuka aurat” misalkan. Jadi, jangan biarkan orang lain melecehkan kita hanya gara-gara kelemahan ilmu-ilmu agama kita.


HIJAB KU

 
Matahari telah menampakkan sinarnya,hingga menerobos jendela kamar Tita. Udara yang cukup dingin dan rasa lelah begadang semalaman demi pergi ke acara ulang tahun kawannya membuat dia enggan untuk pergi dari kasurnya yang empuk. Entah sudah berapa kali Ibu membangunkan Tita namun dia tetap tidak mau bangun.
“Tok.....tok.....tok”  terdengar pintu kamar Tita diketuk cukup keras.
“Tita!!!! Bangun...apa kamu tidak mau sekolah...!?”
“Ia bu, Tita bangun sekarang...” ucap Tita sambil berusaha bangkit.
Setelah setengah jam Tita pun keluar dari kamarnya, dia sudah siap dengan pakaian muslimnya. Tita bersekolah di SMA Harapan, yang berbasis Islami. Kini dia duduk di kelas XI.IPA. Bergegas dia berangkat sekolah tanpa berpamitan pada orang tuanya dan segera memacu motornya. Melihat kelakuan anaknya itu Ibunya hanya diam saja, dia sudah lelah menasehati Tita, kelakuannya tidak pernah berubah. Bahkan, kelakuan Tita sudah mulai kelewat batas, mulai dari bolos sekolah dan pergi ke mall, keluar malam bahkan sekarang pun ia sudah mulai membuka auratnya setiap kali sudah keluar dari lingkungan sekolah, sepertinya jilbab tidak penting baginya, hanya untuk mematuhi kewajiban di sekolah saja.
***
Sampai di sekolah Tita tidak langsung menuju ke kelas namun dia mampir ke kantin untuk sarapan. Di tengah jalan dia bertemu temannya Vivi.
“Hai Ta, gimana acaranya semalam asyik kan?”
“Jelas dong, acaranya asyik gag bikin bete,tapi sayang begitu pulang,nyokap marah-marah.”
“Udah lah,biarin aja. Kamu mau makan? Yuk aku traktir...”
“Ok dech...”
            Setelah makan di kantin Tita bergegas menuju ke kelas, sesampainya di kelas dia langsung di sambut oleh dua sahabatnya, Tera dan Mila.
“Ta, bolos aja yuk ? Males banget nich aku, apalagi sekarang pelajaran Akhlak, kebanyakan ceramah, telingaku panas !” ucap Tera
“Hm...bener juga sich, tapi bisa-bisa orang tuaku di panggil nich! Coba udah berapa kali aku bolos pelajaran?!”
“Ah kamu ini gimana, paling juga di panggil trus di kasih peringatan. Udah kan selesai.” ucap Mila
“Hm...tapi boleh juga, ya udah yuk cabut...! Pelajaran agama tuh cuma bikin ngantuk!” ucap Tita.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke mall. Sesampainya di mall, mereka berganti pakaian, namun pakaian mereka sangat menonjol dan cenderung mengumbar aurat.
            Saat berjalan-jalan Tita dan kedua sahabatnya bertemu dengan Rio dan kawan-kawannya, di sekolah Rio terkenal jahil. Saat mereka bertemu, Rio pun menggoda Tita yang berpakaian minim.
“Ta....kamu cantik banget sich? Bajunya kurang bahan ya? Apa perlu aku beliin? ” ucap Rio diikuti gelak tawa teman-temannya.
“Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?” ucap Tita
“Habis salah siapa kamu pake pakaian kaya gitu?! Jalan-jalan ke mall cuma buat pamer aurat, buat cari perhatian ? apa kamu bangga nunjukin aurat kamu kayak gitu?” ucap Rio lagi.
“Memangnya kamu siapa aku? Pakai nglarang-nglarang gitu!” ucap Tita marah
            Karena tidak tahan di lecehkan terus menerus Tita pun tanpa sadar mengalirkan air mata, lalu dia pergi begitu saja. Kedua sahabatnya lalu mengejar Tita sampai di tempat parkir.
“Ta...udahlah paling juga Rio bercanda. Dia kan anaknya jahil.” ucap Mila menenangkan.
“Tapi Mil, aku merasa dilecehkan, hati aku sakit banget! Baru kali ini ada cowok yang bilang kaya gitu ke aku. Gimana harga diri aku coba?!” Tita pun menangis dan meninggalkan dua orang sahabatnya tadi.
***
            Sampai di rumah Tita langsung masuk ke kamar, Ibu yang melihat Tita menangis menjadi khawatir dan menemui Tita di kamar.
“Tita....boleh Ibu masuk nak?” ucap Ibu di depan pintu kamar Tita
“Iya bu....”
“Kamu kenapa sayang? Kok jam segini udah pulang?” tanya Ibu sambil mengelus-elus rambut Tita.
“Tita bolos bu, tadi Tita pergi ke mall”
“Bolos lagi?! Lalu kenapa kamu pakai pakaian kaya gitu, kamu gag pantas sayang pakai pakaian seperti itu, Ibu enggak pernah ngajarin kamu kaya gitu kan?”
“Iya bu ...Tita tahu, Tita memang salah. Karena pakaian ini, tadi Tita dilecehkan teman Tita bu..... , baru kali ini ada cowok yang berani ngomong kaya gitu ke Tita, Tita sakit bu! Sepertinya harga diri Tita udah enggak ada lagi!” ucap Tita sambil terus menangis.
“Trus, sekarang Tita mau gimana? Apa Tita gag mau berubah setelah dilecehkan? Tita mau terus dilecehkan teman-teman Tita?” ujar ibu menasehati
“Mulai sekarang Tita ingin berubah bu....Tita sadar selama ini Tita salah.”
“Apa Ibu bisa pegang omongan kamu?”
“Iya bu, Tita janji Tita bakal berubah. Tita ingin jadi anak baik, seperti yang Ibu inginkan.”
***
            Ketika adzan shubuh berkumandang, Tita bergegas bangun dan mengambil air wudlu, ibu yang melihat perubahan Tita pun merasa heran. Tidak biasanya Tita sholat, apalagi sholat shubuh. Setelah mandi dan siap-siap Tita bergegas berangkat ke sekolah, tak lupa dia mencium tangan ibunya.
“Wah..Tita sekarang berubah ya, jauh lebih sopan sama Ibu?”tanya ibu heran
“Ia bu, Tita kan udah janji mau berubah.”
“Syukurlah, kamu mau berubah. Semoga bukan hanya sementara tapi selamanya. Ya sudah sana berangkat, nanti terlambat.”
“Amin, ya udah Tita berangkat bu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
            Sampai di sekolah, dia bertemu Mila dan Tera, mereka mengajak Tita untuk bolos lagi dan main ke mall.
“Ta, bolos lagi yuk? Aku lagi bete nich...” ajak Tera
“Enggak lah, hari ini ada pelajaran penting, takut nanti ketinggalan.” jawab Tita
“Biasanya kalau suruh bolos kamu paling semangat, ayolah.....paling juga pelajaran Matematika......” bujuk Tera
“Enggak lah. Aku ga bisa sekarang.”
“Ya udah kalau gitu ntar pulang sekolah gimana?” ajak Mila
“Emmm....ya udah aku mau tapi ntar pulang sekolah ya.....”
“Ok dechh.....”jawab Mila
***
            Sampai di depan mall wajah Mila dan Tera berbinar-binar, berbeda dengan Tita yang tampak murung. Mereka lekas pergi ke toilet untuk ganti baju, namun Tita hanya diam di depan pintu toilet menunggu dua sahabatnya itu.
“Ta!!! Cepet ganti baju, kita udah selesai nich. Jangan bengong aja?!” ucap Tera
“Aku ga mau ganti baju, pakai seragam aja...”
“Haa??  Yang bener kamu? Masa shooping pake seragam, jelek tahu...!”ucap Mila
“Aku gag punya baju panjang di rumah jadi aku pakai seragam aja yang panjang, kan biar menutup aurat.”
“Haduh Tita...! Kamu itu kenapa sich? Sok menutup aurat segala. Biasanya aja pakai teng top sama celana pendek, kok sekarang jadi berubah gini.....Gag asyik banget!” ucap Tera
“Semenjak kejadian di mall, aku mutusin buat menutup aurat. Aku enggak mau dilecehin lagi sama cowok. Memang ada manfaatnya Islam menyuruh kita menutup aurat agar tidak ada orang yang mengganggu kita, karena pakaian kita tertutup.”
“Haduh ngapain masih mikirin kejadian waktu itu, udahlah lupain aja. Kamu tuh berubah banget, jadi sok nasehatin kita! Pikiran kamu tuh udah ga sejalan sama kita!”
“Ya udahlah kalau memang kalian ga suka, lebih baik aku pulang saja. Aku juga ga senang dengan gaya hidup kalian!”
“Ya udah sana pulang, nyesel aku punya sahabat kaya kamu!” ucap Tera marah.
***
            Tita duduk di bangku taman, sambil merenung.Tiba-tiba Nasya, teman sekelas Tita datang menghampiri Tita.
“Ta....kamu ngapain disini? Kok enggak main sama Mila dan Tera?”
“Eh kamu Sya, enggak, aku udah enggak sahabatan sama mereka lagi. Mereka enggak suka perubahanku...”
“Kok bisa, ada sahabatnya berubah ke arah positif justru dijauhi? Harusnya mereka seneng dong.”
“Aku juga gag tau Sya, eh ya Sya...kamu mau ga jadi temanku? Aku ingin belajar banyak dari kamu....”
“Bukannya dari dulu aku teman kamu?! Syukurlah kamu sudah mau berubah. Dengan senang hati aku mau ngajarin kamu lebih banyak tentang islam.”
“Makasih ya.....”
***
            Sejak saat itu Tita dan Nasya bersahabat. Tita senang bergaul sama Nasya karena dia orangnya sederhana dan apa adanya. Sabar banget ngadepin Tita. Namun suatu hari saat pulang sekolah Tita bertemu dengan Mila dan Tera.
“Wah...wah....sekarang kamu berubah banget ya Ta? Udah sok suci, udah gag inget sama kita! Gag nyangka dulu kita punya sahabat yang pengkhianat!” ucap Tera
“Em...aku gag pernah lupa sama kalian. Kalian tetap sahabatku kok. Cuma aku ga suka sama gaya hidup kalian. Kenapa sich kalian ga mau berubah?”
“Kita udah berubah kok, ga kaya dulu lagi.” ucap Tera berbohong.
“Syukurlah kalau kalian mau berubah, aku senang.”ucap Tita
“Kamu masih mau berteman sama kita kan?” tanya Mila
“Tentu, kalian kan masih sahabatku....”
“Gimana kalau nanti kita ke mall sama makan-makan, yah buat ngrayain persahabatan kita. Mau ga Ta?” ajak Tera
“Hm...gimana ya? Boleh juga....”
***
            Lama kelamaan Tita semakin sering bergabung dengan Tera dan Mila, sekarang dia menjauhi Nasya. Setelah Tita kembali bergaul dengan Tera dan Mila, sedikit demi sedikit Tita berubah. Pakaiannya kembali seperti dulu, tidak memakai jilbab. Dia juga mulai mengabaikan sholat, sering terlambat ke sekolah karena selalu pulang larut malam. Tita merasa kehidupannya yang dulu lebih bebas dan mengasyikkan. Hingga suatu hari Nasya menemui Tita.
“Ta...boleh aku ngomong sama kamu?”
“Boleh, ngomong aja. Gag ada yang melarang kok.” jawab Tita judes
“Kamu kok sekarang jadi berubah kaya dulu lagi? Setiap keluar dari sekolah selalu lepas jilbab, nilai-nilaimu menurun, dan udah gag pernah sholat.”
“Trus apa urusan kamu? Aku jenuh Sya dengan hidupku yang sekarang, aku lebih seneng jalan sama Mila dan Tera,mereka jauh lebih asyik!”
“Kamu sadar enggak, mereka tuh bukan sahabat yang baik buat kamu. Kalau mereka sahabat yang baik harusnya mereka menuntun kamu ke arah kebaikan, bukan justru menjerumuskan kamu kaya gini.” ujar Nasya menasehati.
Tita hanya diam mendengar kata-kata Nasya, dia merenungi perbuatannya. ”Benar selama ini Mila dan Tera tidak pernah memberiku hal positif, yang mereka lakukan hanya foya-foya dan mereka telah menjerumuskan aku, hingga aku dilecehkan karena pakaianku yang tidak menutup aurat. Harusnya aku mengikuti saran Ibu, bahkan Ibu senang jika aku menutup aurat, itu akan lebih baik.Namun Mila dan Tera? Merekalah yang justru menjerumuskan aku seperti ini” gumam Tita dalam hati.
“Kamu benar Sya, aku salah. Harusnya aku sadar kalau mereka bukan sahabat yang baik buat aku.Kamu mau kan maafin aku? Kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
“Ia Ta, aku maafin kamu. Tapi kamu harus janji kamu harus berubah. Kamu tutup aurat kamu itu. Dan jangan pernah menjadikan jilbab itu sebagai hiasan atau bentuk kepatuhan kamu terhadap peraturan,sia-sia saja. Dan percumah kamu pakai jilbab, tapi perbuatan kamu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Wanita berjilbab itu diibaratkan mutiara yang tersimpan di dalam kerang daripada permata yang menyilaukan.”
***
            Sejak saat itu Tita menjadi berubah, dia mau benar-benar menutup auratnya, rajin beribadah dan lebih faham tentang agama.
***