Kamis, 16 Februari 2012

Kenangan Abadi


Adzan shubuh sudah menggema di masjid At-Taqwa,Anisa segera bergegas pergi menuju ke masjid,padahal udara pagi itu sangat dingin.Sampai di masjid dia segera mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah.Setelah selesai menunaikan sholat shubuh Anisa kembali ke rumah,dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.Anisa duduk di kelas XI.IPA,tepatnya di SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO.Karena jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.
            Tak lama kemudian Anisa telah siap untuk berangkat ke sekolah,lalu dia menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orangtuanya.
“Nis...nanti kamu bawa bekal ya,biar kalau pulang sore tidak telat makan.”ucap Ibu sambil menyerahkan kotak makan.
“Baik bu,oh iya Anis minta izin pulang terlambat,rencananya nanti sepulang sekolah aku akan mengikuti bimbingan menulis.”ucap Anisa
“Buat apa kamu ikut bimbingan menulis seperti itu? Yang penting kamu sekolah dulu yang sungguh-sungguh lalu kerja cari uang,membantu bapak dan ibumu yang sudah tua.”kata bapak
“Pak...itu kan buat nambah pengalaman lagi pula kegiatan seperti itu tidak mengganggu belajar Anis,Pak....”terang Anisa
“Bapak tidak setuju kalau kamu jadi penulis!Penulis itu seperti orang tidak punya kerjaan.”kata Bapak tidak setuju.
“Pak...kata guru Anis,menulis itu bisa menghasilkan uang,lagipula menulis itu menyenangkan Pak....”bela Anisa
“Pokoknya bapak tidak setuju!”bentak bapak
            Anisa hanya diam mendengar ketidaksetujuan Bapaknya.Lalu dia bergegas berangkat ke sekolah.
***
Dengan hati yang tidak karuan dia berjalan menuju kelas,ditengah  jalan dengan tidak sengaja Anisa menabrak seorang cowok hingga membuat buku yang di bawa Anisa berjatuhan.
“Maaf......maaf aku tidak sengaja?”ucap cowok tersebut sambil membantu Anisa membereskan buku yang berserakan.
“Tidak apa-apa aku yang ceroboh”ucap Anisa dengan lembut.
Cowok tersebut lalu bergegas meninggalkan Anisa.Kemudian Anisa bergegas masuk ke dalam ruang bahasa Arab.
“Sudahkah kamu mengerjakan PR?”tanya Dewi.
“Sudah semalam”jawab Anisa
“Tampaknya hari ini kamu sedang tidak bersemangat? Ada apa gerangan?”tanya Dewi ingin tahu.
“Bapakku tidak setuju Wi,jika aku ikut bimbingan menulis”ucap Anisa
“Hm....mungkin bapakmu belum tahu lebih dalam tentang penulis itu,jadi bapakmu belum yakin.”ujar Dewi menasehati.
            Bel berbunyi,Ustadzah Erfika telah masuk ke dalam kelas.Namun,dia tidak sendirian di belakangnya ada seoarang cowok,nampaknya dia anak baru.Anisa terkejut ketika cowok itu menuju ke bangkunya dan duduk di sampingnya.Setengah jam berlalu mereka hanya diam,tanpa mengatakan sepatah katapun,lalu Anisa angkat bicara.
“Siapa namamu?”tanya Anisa
“Amar,kalau kamu siapa?
“Anisa,senang berkenalan denganmu Amar.”
“Ia,semoga kita bisa berteman baik.”
***
            Pelajaran bahasa Arab pun telah usai,bel istirahat berbunyi aku bergegas mengambil mukena dan menuju ke masjid untuk sholat dhuha.Aku memang terbiasa melaksanakan sholat dhuha,apalagi saat ini fikiranku sedang kacau,teringat kata-kat bapak yang tidak mengizinkan aku menjadi penulis.Sampai di masjid aku segera mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat dhuha.Seusai sholat Anisa masih duduk terdiam di masjid sambil menenangkan diri,Dia bingung apakah dia harus berhenti berangan-angan jadi penulis demi orang tuanya atau membantah orang tuanya dan tetap menjadi penulis.Selama ini dia tidak pernah mengecewakan keinginan orang tuanya, apakah sekarang dia harus  membantah orang tuanya demi menjadi seorang penulis? Anisa sangat bingung,dia berdoa kepada Allah dan memohon yang terbaik.
***
            Sepulang sekolah Anisa tetap mengikuti pelatihan menulis,meskipun dia ragu.Saat pelatihan berlangsung Anisa sangat memperhatikan apa yang di sampaikan oleh Pembimbing.Rupanya keinginannya untuk menjadi penulis sangat besar.Setelah pelatihan selesai Anisa bergegas pulang karena hari sudah sore,dia takut terkena marah bapaknya.
            Sampai di rumah,bapak sedang duduk di teras bersama ibu.Perasaanku sudah tidak karuan,aku yakin bapak akan bertanya macam-macam padaku.
“Assalamualaikum”ucap Anisa
“Waalaikum salam”ucap bapak dan ibu serempak.
“Dari mana pulang sesore ini? Bimbingan menulis?”tanya bapak
“I...iya pak.”ucap Anisa gugup
“Bapak tidak mengizinkan kamu jadi penulis,kenapa kamu masih membantah bapak?”
“Maafkan Anisa pak,keinginan Anisa menjadi penulis terlalu besar,hingga membuat Anis tidak bisa menuruti ucapan bapak.”ucap Anisa sambil terisak
“Terserah kamu,bapak sudah menyarankan jalan yang terbaik buat hidupmu kelak,tapi kamu justru memilih jalan lain.”ucap bapak lalu masuk ke dalam rumah.
“Yang sabar Nis,ibu tahu keinginan kamu menjadi penulis sangat besar.Sabarlah sedikit tunggu sampai hati bapakmu tenang,lalu kamu bicara baik-baik padanya”ucap ibu menenangkan Anisa
“Iya bu,ya sudah Anisa pergi mandi dulu lalu sholat ashar.”
            Setelah selesai sholat Anisa mengambil buku dan alat tulis,kemudian dia pergi ke sawah,di sana ada sebuah rumah bambu tempat dia menghabiskan waktu sepulang sekolah,lagipula Anisa sudah lama tidak kesana.Di tempat itu juga setiap sore Anisa selalu mengajar anak-anak kecil untuk mengaji.Sesampainya dia di rumah bambu suasana tampak ceria anak-anak tersebut berlari menghampiri Anisa,perasaan Anisa pun berubah ceria,Arman sahabat Anisa pun ikut senang melihat kedatangan Anisa.
“Tampaknya sudah lama kamu tidak berkunjung ke sini,sedang sibuk ya?”tanya Arman.
“Ia Man...akhir-akhir ini aku cukup sibuk,apalagi aku sedang ada masalah”
“Kalau boleh tahu,masalah apa Nis? Siapa tahu aku bisa membantu...”
“Bapakku tidak setuju kalau aku jadi penulis.”
“Oh itu masalahnya,itu hanya masalah waktu Nis,kalau Bapakmu sudah melihat karya-karyamu pasti dia akan setuju.”
“Ya semoga saja”
“Lama tidak bertemu tampaknya kamu semakin cantik Nis....”
“Terima kasih,kamu itu selalu memperhatikan aku”ucap Anisa tersipu
“Nis...sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini....”
“Hal apa Man?”
“Aku menyukaimu Nis,aku tahu mungkin kamu tidak mau berpacaran,tapi bolehkah aku tahu bagaimana perasaanmu padaku?”
“Arman kita sudah berteman sejak kecil dan perasaanku padamu hanya sebatas teman saja,ku harap kamu mengerti”
“Sama sekali tidak ada perasaan lain?”ucap Arman meyakinkan
“Ia Arman,kau tahu aku tidak akan pacaran dan aku sudah menganggapmu sebagai sahabat”
“Baiklah jika itu keputusanmu,insyaAllah aku akan menerima.”
***
            Hari Minggu pagi matahari bersinar cerah,Anisa akan pergi menemui Amar untuk menyerahkan novel yang telah selesai dia buat.Sejak perkenalan itu Anisa dan Amar memang semakin dekat,banyak kesamaan yang membuat mereka cocok.Amar juga suka menulis,maka dari itu mereka sering bertukar pikiran.Mereka sepakat untuk bertemu di Perpusda, Amar akan membantu Anisa untuk mengirimkan novelnya ke Penerbit.Kebetulan pemilik Penerbitan tersebut adalah Ayah Amar.Sampai di Perpusda ternyata Amar telah berada di sana.
“Hai Amar,maaf sudah membuatmu menunggu?”
“Tidak apa-apa,aku juga baru saja sampai.Mana datanya,biar nanti aku serahakan kepada Ayahku siapa tahu Ayah suka dan mau menerbitkannya.”
“Oh iya ini ada di dalam flashdisk,amin....Semoga bisa di terbitkan.”ucap Anisa sambil menyerahkan flashdisk pada Amar.
“Bagaimana dengan Bapakmu Nis? Apakah dia setuju?”
“Bapakku tidak tahu aku menulis novel,aku pergi kesini juga diam-diam takut di tanya macam-macam.Aku berharap novelku bisa diterbitkan dan Bapakku akan tahu tentang karyaku,tentang cita-citaku dan tekadku yang besar untuk menjadi penulis”
“Iya,aku akan selalu mendoakanmu Nis.Aku yakin setelah novel ini terbit bapakmu pasti akan mengizinkanmu,percayalah.Oh ya aku senang bisa dekat dengan cewek yang pantang menyerah sepertimu.Aku juga senang jika berada di dekatmu,kamu tahu maksudku kan?”
“Memang apa maksudmu? Aku sungguh tak mengerti...”
“Aku menyukaimu Nis... ,sejak kita pertama bertemu.Maukah kamu jadi pacarku Nis?”
Anisa hanya terdiam mendengar ucapan Amar,dia tidak menyangka Amar menyukainya.Jujur Anisa juga menyukai Amar,namun dia tidak bisa bersama Amar karena Anisa tidak akan mau berpacaran.Menurutnya pacaran itu lebih banyak mudhartnya daripada manfaatnya.
“Nis....kamu kenapa?”
“Maaf Mar,aku tidak bisa menerima kamu.Aku tidak suka berpacaran”
“Tapi kamu menyukai aku juga kan? Apa salahnya pacaran,asalkan kita tidak melakukan hal di luar batas kewajaran.”
“Ya, aku memang menyukaimu,tapi maaf  Mar,aku tetap tidak bisa.Kuharap kamu mengerti.Sekarang ini aku ingin fokus pada sekolah dan cita-citaku”
“Tapi aku sungguh mencintai kamu”
“Lebih baik kamu pasrahkan rasa cinta kamu kepada Allah,Dialah yang Maha Mengetahui,kalau kita jodoh pasti Allah akan mempersatukan kita.Ya sudah aku pulang dulu,terima kasih kamu mau membantuku dan aku berharap bantuan kamu itu tulus bukan karena kamu menyukaiku.”
“Baiklah aku terima itu semua dan aku memang tulus membantumu,bukan karena aku ingin mendapatkanmu.”
            Setelah berpamitan .Anisa pergi meninggalkan Amar sendiri.Namun,ketika pulang di jalan dia tidak berkonsentrasi,dia tidak sadar ada mobil yang melaju kencang di belakangnya,mobil itu kemudian menabrak tubuh Anisa,seketika Anisa terlempar ke pinggir jalan dan kepalanya membentur pembatas jalan.Mobil yang menabraknya justru melarikan diri,orang yang melihat kejadian itu langsung menolong dan membawa Anisa ke rumah sakit namun karena pendarahan yang cukup parah nyawa Anisa tidak tertolong.Pihak rumah sakit lalu menghubungi keluarga Anisa,Bapak Anisa begitu terkejut dan tidak percaya bahwa anak semata wayangnya meninggal dengan cara seperti ini.
            Saat pemakaman orang tua dan teman-teman Anisa begitu berduka.Selama ini Anisa dikenal sebagai anak yang baik,sopan dan pantang menyerah.Begitupun dengan Amar dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya sudah tiada.
***
            Sebualan setelah kematian Anisa,novel karya Anisa berhasil di terbitkan dan respon masyarakat sangat baik.Ketika orang tua Anisa mengetahui hal itu,rasa penyesalan menyelimuti Bapak Anisa,kini dia menyadari kekeliruannya yang melarang Anisa untuk jadi seorang penulis,namun apa daya nasi sudah menjadi bubur,menyesal tiada gunanya.Walaupun begitu dia merasakan suatu kebanggaan pada Anisa meskipun kini Anisa telah tiada namun dia meninggalkan karya-karya terbaiknya,berupa goresan tinta dan kata-kata yang indah.Anisa memang telah tiada namun namanya akan terkenang dan menjadi suatu kenangan yang terindah untuk orang-orang yang begitu menyayangi Anisa.......
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar