Jilbab......
Sesuatu yang tidak
asing untuk kaum hawa, kini sebagian besar kaum hawa mengenakan jilbab.Sungguh
gembira dengan penampilan remaja kita yang lebih ”hijau” dengan jilbab. Semoga
berjilbab terjadi berasal dari kesadaran diri, bukan sekedar tren. Jadi, jilbab bukan hanya asesoris atau
sebagai hiasan saja untuk menutupi kekurangan diri, pastikan bahwa nilai islam
juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku kita. Bila tidak bisa-bisa kita
terpeleset pada perilaku negatif. Acapkali terjadi jilbab atau asesoris islam
mendapat citra negatif karena ulah kita sendiri. ”Ah, yang pake jilbab aja
pacarannya kuat” atau “Ah pakai jilbab hanya di sekolah, di luar sekolah ya
sudah membuka aurat” misalkan. Jadi, jangan biarkan orang lain melecehkan kita
hanya gara-gara kelemahan ilmu-ilmu agama kita.
HIJAB KU
Matahari telah
menampakkan sinarnya,hingga menerobos jendela kamar Tita. Udara yang cukup
dingin dan rasa lelah begadang semalaman demi pergi ke acara ulang tahun
kawannya membuat dia enggan untuk pergi dari kasurnya yang empuk. Entah sudah
berapa kali Ibu membangunkan Tita namun dia tetap tidak mau bangun.
“Tok.....tok.....tok” terdengar pintu kamar Tita diketuk cukup
keras.
“Tita!!!! Bangun...apa
kamu tidak mau sekolah...!?”
“Ia bu, Tita bangun
sekarang...” ucap Tita sambil berusaha bangkit.
Setelah setengah jam
Tita pun keluar dari kamarnya, dia sudah siap dengan pakaian muslimnya. Tita
bersekolah di SMA Harapan, yang berbasis Islami. Kini dia duduk di kelas XI.IPA.
Bergegas dia berangkat sekolah tanpa berpamitan pada orang tuanya dan segera
memacu motornya. Melihat kelakuan anaknya itu Ibunya hanya diam saja, dia sudah
lelah menasehati Tita, kelakuannya tidak pernah berubah. Bahkan, kelakuan Tita
sudah mulai kelewat batas, mulai dari bolos sekolah dan pergi ke mall, keluar
malam bahkan sekarang pun ia sudah mulai membuka auratnya setiap kali sudah
keluar dari lingkungan sekolah, sepertinya jilbab tidak penting baginya, hanya untuk
mematuhi kewajiban di sekolah saja.
***
Sampai
di sekolah Tita tidak langsung menuju ke kelas namun dia mampir ke kantin untuk
sarapan. Di tengah jalan dia bertemu temannya Vivi.
“Hai Ta, gimana
acaranya semalam asyik kan?”
“Jelas dong, acaranya
asyik gag bikin bete,tapi sayang begitu pulang,nyokap marah-marah.”
“Udah lah,biarin aja. Kamu
mau makan? Yuk aku traktir...”
“Ok dech...”
Setelah makan di kantin Tita bergegas menuju ke kelas, sesampainya
di kelas dia langsung di sambut oleh dua sahabatnya, Tera dan Mila.
“Ta, bolos aja yuk ?
Males banget nich aku, apalagi sekarang pelajaran Akhlak, kebanyakan ceramah, telingaku
panas !” ucap Tera
“Hm...bener juga sich, tapi
bisa-bisa orang tuaku di panggil nich! Coba udah berapa kali aku bolos pelajaran?!”
“Ah kamu ini gimana, paling
juga di panggil trus di kasih peringatan. Udah kan selesai.” ucap Mila
“Hm...tapi boleh juga, ya
udah yuk cabut...! Pelajaran agama tuh cuma bikin ngantuk!” ucap Tita.
Mereka akhirnya
memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke mall. Sesampainya di mall, mereka
berganti pakaian, namun pakaian mereka sangat menonjol dan cenderung mengumbar aurat.
Saat berjalan-jalan Tita dan kedua sahabatnya bertemu
dengan Rio dan kawan-kawannya, di sekolah Rio terkenal jahil. Saat mereka
bertemu, Rio pun menggoda Tita yang berpakaian minim.
“Ta....kamu cantik
banget sich? Bajunya kurang bahan ya? Apa perlu aku beliin? ” ucap Rio diikuti
gelak tawa teman-temannya.
“Maksud kamu apa
ngomong kaya gitu?” ucap Tita
“Habis salah siapa kamu
pake pakaian kaya gitu?! Jalan-jalan ke mall cuma buat pamer aurat, buat cari
perhatian ? apa kamu bangga nunjukin aurat kamu kayak gitu?” ucap Rio lagi.
“Memangnya kamu siapa
aku? Pakai nglarang-nglarang gitu!” ucap Tita marah
Karena
tidak tahan di lecehkan terus menerus Tita pun tanpa sadar mengalirkan air mata,
lalu dia pergi begitu saja. Kedua sahabatnya lalu mengejar Tita sampai di
tempat parkir.
“Ta...udahlah paling
juga Rio bercanda. Dia kan anaknya jahil.” ucap Mila menenangkan.
“Tapi Mil, aku merasa
dilecehkan, hati aku sakit banget! Baru kali ini ada cowok yang bilang kaya
gitu ke aku. Gimana harga diri aku coba?!” Tita pun menangis dan meninggalkan
dua orang sahabatnya tadi.
***
Sampai di rumah Tita langsung masuk ke kamar, Ibu yang
melihat Tita menangis menjadi khawatir dan menemui Tita di kamar.
“Tita....boleh Ibu
masuk nak?” ucap Ibu di depan pintu kamar Tita
“Iya bu....”
“Kamu kenapa sayang?
Kok jam segini udah pulang?” tanya Ibu sambil mengelus-elus rambut Tita.
“Tita bolos bu, tadi
Tita pergi ke mall”
“Bolos lagi?! Lalu
kenapa kamu pakai pakaian kaya gitu, kamu gag pantas sayang pakai pakaian
seperti itu, Ibu enggak pernah ngajarin kamu kaya gitu kan?”
“Iya bu ...Tita tahu, Tita
memang salah. Karena pakaian ini, tadi Tita dilecehkan teman Tita bu..... , baru
kali ini ada cowok yang berani ngomong kaya gitu ke Tita, Tita sakit bu! Sepertinya
harga diri Tita udah enggak ada lagi!” ucap Tita sambil terus menangis.
“Trus, sekarang Tita
mau gimana? Apa Tita gag mau berubah setelah dilecehkan? Tita mau terus
dilecehkan teman-teman Tita?” ujar ibu menasehati
“Mulai sekarang Tita
ingin berubah bu....Tita sadar selama ini Tita salah.”
“Apa Ibu bisa pegang
omongan kamu?”
“Iya bu, Tita janji
Tita bakal berubah. Tita ingin jadi anak baik, seperti yang Ibu inginkan.”
***
Ketika adzan shubuh berkumandang, Tita bergegas bangun
dan mengambil air wudlu, ibu yang melihat perubahan Tita pun merasa heran. Tidak
biasanya Tita sholat, apalagi sholat shubuh. Setelah mandi dan siap-siap Tita
bergegas berangkat ke sekolah, tak lupa dia mencium tangan ibunya.
“Wah..Tita sekarang
berubah ya, jauh lebih sopan sama Ibu?”tanya ibu heran
“Ia bu, Tita kan udah
janji mau berubah.”
“Syukurlah, kamu mau
berubah. Semoga bukan hanya sementara tapi selamanya. Ya sudah sana berangkat, nanti
terlambat.”
“Amin, ya udah Tita
berangkat bu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Sampai di sekolah, dia bertemu Mila dan Tera, mereka
mengajak Tita untuk bolos lagi dan main ke mall.
“Ta, bolos lagi yuk?
Aku lagi bete nich...” ajak Tera
“Enggak lah, hari ini
ada pelajaran penting, takut nanti ketinggalan.” jawab Tita
“Biasanya kalau suruh
bolos kamu paling semangat, ayolah.....paling juga pelajaran Matematika......” bujuk
Tera
“Enggak lah. Aku ga
bisa sekarang.”
“Ya udah kalau gitu
ntar pulang sekolah gimana?” ajak Mila
“Emmm....ya udah aku
mau tapi ntar pulang sekolah ya.....”
“Ok dechh.....”jawab
Mila
***
Sampai di depan mall wajah Mila dan Tera berbinar-binar, berbeda
dengan Tita yang tampak murung. Mereka lekas pergi ke toilet untuk ganti baju, namun
Tita hanya diam di depan pintu toilet menunggu dua sahabatnya itu.
“Ta!!! Cepet ganti
baju, kita udah selesai nich. Jangan bengong aja?!” ucap Tera
“Aku ga mau ganti baju,
pakai seragam aja...”
“Haa?? Yang bener kamu? Masa shooping pake seragam, jelek
tahu...!”ucap Mila
“Aku gag punya baju
panjang di rumah jadi aku pakai seragam aja yang panjang, kan biar menutup
aurat.”
“Haduh Tita...! Kamu
itu kenapa sich? Sok menutup aurat segala. Biasanya aja pakai teng top sama
celana pendek, kok sekarang jadi berubah gini.....Gag asyik banget!” ucap Tera
“Semenjak kejadian di
mall, aku mutusin buat menutup aurat. Aku enggak mau dilecehin lagi sama cowok.
Memang ada manfaatnya Islam menyuruh kita menutup aurat agar tidak ada orang
yang mengganggu kita, karena pakaian kita tertutup.”
“Haduh ngapain masih
mikirin kejadian waktu itu, udahlah lupain aja. Kamu tuh berubah banget, jadi
sok nasehatin kita! Pikiran kamu tuh udah ga sejalan sama kita!”
“Ya udahlah kalau
memang kalian ga suka, lebih baik aku pulang saja. Aku juga ga senang dengan
gaya hidup kalian!”
“Ya udah sana pulang, nyesel
aku punya sahabat kaya kamu!” ucap Tera marah.
***
Tita duduk di bangku taman, sambil merenung.Tiba-tiba
Nasya, teman sekelas Tita datang menghampiri Tita.
“Ta....kamu ngapain
disini? Kok enggak main sama Mila dan Tera?”
“Eh kamu Sya, enggak, aku
udah enggak sahabatan sama mereka lagi. Mereka enggak suka perubahanku...”
“Kok bisa, ada
sahabatnya berubah ke arah positif justru dijauhi? Harusnya mereka seneng
dong.”
“Aku juga gag tau Sya, eh
ya Sya...kamu mau ga jadi temanku? Aku ingin belajar banyak dari kamu....”
“Bukannya dari dulu aku
teman kamu?! Syukurlah kamu sudah mau berubah. Dengan senang hati aku mau
ngajarin kamu lebih banyak tentang islam.”
“Makasih ya.....”
***
Sejak saat itu Tita dan Nasya bersahabat. Tita senang
bergaul sama Nasya karena dia orangnya sederhana dan apa adanya. Sabar banget
ngadepin Tita. Namun suatu hari saat pulang sekolah Tita bertemu dengan Mila
dan Tera.
“Wah...wah....sekarang
kamu berubah banget ya Ta? Udah sok suci, udah gag inget sama kita! Gag nyangka
dulu kita punya sahabat yang pengkhianat!” ucap Tera
“Em...aku gag pernah
lupa sama kalian. Kalian tetap sahabatku kok. Cuma aku ga suka sama gaya hidup
kalian. Kenapa sich kalian ga mau berubah?”
“Kita udah berubah kok,
ga kaya dulu lagi.” ucap Tera berbohong.
“Syukurlah kalau kalian
mau berubah, aku senang.”ucap Tita
“Kamu masih mau
berteman sama kita kan?” tanya Mila
“Tentu, kalian kan
masih sahabatku....”
“Gimana kalau nanti
kita ke mall sama makan-makan, yah buat ngrayain persahabatan kita. Mau ga Ta?”
ajak Tera
“Hm...gimana ya? Boleh
juga....”
***
Lama kelamaan Tita semakin sering bergabung dengan Tera
dan Mila, sekarang dia menjauhi Nasya. Setelah Tita kembali bergaul dengan Tera
dan Mila, sedikit demi sedikit Tita berubah. Pakaiannya kembali seperti dulu, tidak
memakai jilbab. Dia juga mulai mengabaikan sholat, sering terlambat ke sekolah
karena selalu pulang larut malam. Tita merasa kehidupannya yang dulu lebih
bebas dan mengasyikkan. Hingga suatu hari Nasya menemui Tita.
“Ta...boleh aku ngomong
sama kamu?”
“Boleh, ngomong aja. Gag
ada yang melarang kok.” jawab Tita judes
“Kamu kok sekarang jadi
berubah kaya dulu lagi? Setiap keluar dari sekolah selalu lepas jilbab, nilai-nilaimu
menurun, dan udah gag pernah sholat.”
“Trus apa urusan kamu?
Aku jenuh Sya dengan hidupku yang sekarang, aku lebih seneng jalan sama Mila dan
Tera,mereka jauh lebih asyik!”
“Kamu sadar enggak, mereka
tuh bukan sahabat yang baik buat kamu. Kalau mereka sahabat yang baik harusnya
mereka menuntun kamu ke arah kebaikan, bukan justru menjerumuskan kamu kaya
gini.” ujar Nasya menasehati.
Tita
hanya diam mendengar kata-kata Nasya, dia merenungi perbuatannya. ”Benar selama
ini Mila dan Tera tidak pernah memberiku hal positif, yang mereka lakukan hanya
foya-foya dan mereka telah menjerumuskan aku, hingga aku dilecehkan karena pakaianku
yang tidak menutup aurat. Harusnya aku mengikuti saran Ibu, bahkan Ibu senang
jika aku menutup aurat, itu akan lebih baik.Namun Mila dan Tera? Merekalah yang
justru menjerumuskan aku seperti ini” gumam Tita dalam hati.
“Kamu benar Sya, aku
salah. Harusnya aku sadar kalau mereka bukan sahabat yang baik buat aku.Kamu
mau kan maafin aku? Kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
“Ia Ta, aku maafin
kamu. Tapi kamu harus janji kamu harus berubah. Kamu tutup aurat kamu itu. Dan
jangan pernah menjadikan jilbab itu sebagai hiasan atau bentuk kepatuhan kamu
terhadap peraturan,sia-sia saja. Dan percumah kamu pakai jilbab, tapi perbuatan
kamu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Wanita berjilbab itu diibaratkan mutiara
yang tersimpan di dalam kerang daripada permata yang menyilaukan.”
***
Sejak saat itu Tita menjadi berubah, dia mau benar-benar menutup
auratnya, rajin beribadah dan lebih faham tentang agama.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar