Kamis, 16 Februari 2012

Hijab Ku


Jilbab......
Sesuatu yang tidak asing untuk kaum hawa, kini sebagian besar kaum hawa mengenakan jilbab.Sungguh gembira dengan penampilan remaja kita yang lebih ”hijau” dengan jilbab. Semoga berjilbab terjadi berasal dari kesadaran diri, bukan sekedar  tren. Jadi, jilbab bukan hanya asesoris atau sebagai hiasan saja untuk menutupi kekurangan diri, pastikan bahwa nilai islam juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku kita. Bila tidak bisa-bisa kita terpeleset pada perilaku negatif. Acapkali terjadi jilbab atau asesoris islam mendapat citra negatif karena ulah kita sendiri. ”Ah, yang pake jilbab aja pacarannya kuat” atau “Ah pakai jilbab hanya di sekolah, di luar sekolah ya sudah membuka aurat” misalkan. Jadi, jangan biarkan orang lain melecehkan kita hanya gara-gara kelemahan ilmu-ilmu agama kita.


HIJAB KU

 
Matahari telah menampakkan sinarnya,hingga menerobos jendela kamar Tita. Udara yang cukup dingin dan rasa lelah begadang semalaman demi pergi ke acara ulang tahun kawannya membuat dia enggan untuk pergi dari kasurnya yang empuk. Entah sudah berapa kali Ibu membangunkan Tita namun dia tetap tidak mau bangun.
“Tok.....tok.....tok”  terdengar pintu kamar Tita diketuk cukup keras.
“Tita!!!! Bangun...apa kamu tidak mau sekolah...!?”
“Ia bu, Tita bangun sekarang...” ucap Tita sambil berusaha bangkit.
Setelah setengah jam Tita pun keluar dari kamarnya, dia sudah siap dengan pakaian muslimnya. Tita bersekolah di SMA Harapan, yang berbasis Islami. Kini dia duduk di kelas XI.IPA. Bergegas dia berangkat sekolah tanpa berpamitan pada orang tuanya dan segera memacu motornya. Melihat kelakuan anaknya itu Ibunya hanya diam saja, dia sudah lelah menasehati Tita, kelakuannya tidak pernah berubah. Bahkan, kelakuan Tita sudah mulai kelewat batas, mulai dari bolos sekolah dan pergi ke mall, keluar malam bahkan sekarang pun ia sudah mulai membuka auratnya setiap kali sudah keluar dari lingkungan sekolah, sepertinya jilbab tidak penting baginya, hanya untuk mematuhi kewajiban di sekolah saja.
***
Sampai di sekolah Tita tidak langsung menuju ke kelas namun dia mampir ke kantin untuk sarapan. Di tengah jalan dia bertemu temannya Vivi.
“Hai Ta, gimana acaranya semalam asyik kan?”
“Jelas dong, acaranya asyik gag bikin bete,tapi sayang begitu pulang,nyokap marah-marah.”
“Udah lah,biarin aja. Kamu mau makan? Yuk aku traktir...”
“Ok dech...”
            Setelah makan di kantin Tita bergegas menuju ke kelas, sesampainya di kelas dia langsung di sambut oleh dua sahabatnya, Tera dan Mila.
“Ta, bolos aja yuk ? Males banget nich aku, apalagi sekarang pelajaran Akhlak, kebanyakan ceramah, telingaku panas !” ucap Tera
“Hm...bener juga sich, tapi bisa-bisa orang tuaku di panggil nich! Coba udah berapa kali aku bolos pelajaran?!”
“Ah kamu ini gimana, paling juga di panggil trus di kasih peringatan. Udah kan selesai.” ucap Mila
“Hm...tapi boleh juga, ya udah yuk cabut...! Pelajaran agama tuh cuma bikin ngantuk!” ucap Tita.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke mall. Sesampainya di mall, mereka berganti pakaian, namun pakaian mereka sangat menonjol dan cenderung mengumbar aurat.
            Saat berjalan-jalan Tita dan kedua sahabatnya bertemu dengan Rio dan kawan-kawannya, di sekolah Rio terkenal jahil. Saat mereka bertemu, Rio pun menggoda Tita yang berpakaian minim.
“Ta....kamu cantik banget sich? Bajunya kurang bahan ya? Apa perlu aku beliin? ” ucap Rio diikuti gelak tawa teman-temannya.
“Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?” ucap Tita
“Habis salah siapa kamu pake pakaian kaya gitu?! Jalan-jalan ke mall cuma buat pamer aurat, buat cari perhatian ? apa kamu bangga nunjukin aurat kamu kayak gitu?” ucap Rio lagi.
“Memangnya kamu siapa aku? Pakai nglarang-nglarang gitu!” ucap Tita marah
            Karena tidak tahan di lecehkan terus menerus Tita pun tanpa sadar mengalirkan air mata, lalu dia pergi begitu saja. Kedua sahabatnya lalu mengejar Tita sampai di tempat parkir.
“Ta...udahlah paling juga Rio bercanda. Dia kan anaknya jahil.” ucap Mila menenangkan.
“Tapi Mil, aku merasa dilecehkan, hati aku sakit banget! Baru kali ini ada cowok yang bilang kaya gitu ke aku. Gimana harga diri aku coba?!” Tita pun menangis dan meninggalkan dua orang sahabatnya tadi.
***
            Sampai di rumah Tita langsung masuk ke kamar, Ibu yang melihat Tita menangis menjadi khawatir dan menemui Tita di kamar.
“Tita....boleh Ibu masuk nak?” ucap Ibu di depan pintu kamar Tita
“Iya bu....”
“Kamu kenapa sayang? Kok jam segini udah pulang?” tanya Ibu sambil mengelus-elus rambut Tita.
“Tita bolos bu, tadi Tita pergi ke mall”
“Bolos lagi?! Lalu kenapa kamu pakai pakaian kaya gitu, kamu gag pantas sayang pakai pakaian seperti itu, Ibu enggak pernah ngajarin kamu kaya gitu kan?”
“Iya bu ...Tita tahu, Tita memang salah. Karena pakaian ini, tadi Tita dilecehkan teman Tita bu..... , baru kali ini ada cowok yang berani ngomong kaya gitu ke Tita, Tita sakit bu! Sepertinya harga diri Tita udah enggak ada lagi!” ucap Tita sambil terus menangis.
“Trus, sekarang Tita mau gimana? Apa Tita gag mau berubah setelah dilecehkan? Tita mau terus dilecehkan teman-teman Tita?” ujar ibu menasehati
“Mulai sekarang Tita ingin berubah bu....Tita sadar selama ini Tita salah.”
“Apa Ibu bisa pegang omongan kamu?”
“Iya bu, Tita janji Tita bakal berubah. Tita ingin jadi anak baik, seperti yang Ibu inginkan.”
***
            Ketika adzan shubuh berkumandang, Tita bergegas bangun dan mengambil air wudlu, ibu yang melihat perubahan Tita pun merasa heran. Tidak biasanya Tita sholat, apalagi sholat shubuh. Setelah mandi dan siap-siap Tita bergegas berangkat ke sekolah, tak lupa dia mencium tangan ibunya.
“Wah..Tita sekarang berubah ya, jauh lebih sopan sama Ibu?”tanya ibu heran
“Ia bu, Tita kan udah janji mau berubah.”
“Syukurlah, kamu mau berubah. Semoga bukan hanya sementara tapi selamanya. Ya sudah sana berangkat, nanti terlambat.”
“Amin, ya udah Tita berangkat bu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
            Sampai di sekolah, dia bertemu Mila dan Tera, mereka mengajak Tita untuk bolos lagi dan main ke mall.
“Ta, bolos lagi yuk? Aku lagi bete nich...” ajak Tera
“Enggak lah, hari ini ada pelajaran penting, takut nanti ketinggalan.” jawab Tita
“Biasanya kalau suruh bolos kamu paling semangat, ayolah.....paling juga pelajaran Matematika......” bujuk Tera
“Enggak lah. Aku ga bisa sekarang.”
“Ya udah kalau gitu ntar pulang sekolah gimana?” ajak Mila
“Emmm....ya udah aku mau tapi ntar pulang sekolah ya.....”
“Ok dechh.....”jawab Mila
***
            Sampai di depan mall wajah Mila dan Tera berbinar-binar, berbeda dengan Tita yang tampak murung. Mereka lekas pergi ke toilet untuk ganti baju, namun Tita hanya diam di depan pintu toilet menunggu dua sahabatnya itu.
“Ta!!! Cepet ganti baju, kita udah selesai nich. Jangan bengong aja?!” ucap Tera
“Aku ga mau ganti baju, pakai seragam aja...”
“Haa??  Yang bener kamu? Masa shooping pake seragam, jelek tahu...!”ucap Mila
“Aku gag punya baju panjang di rumah jadi aku pakai seragam aja yang panjang, kan biar menutup aurat.”
“Haduh Tita...! Kamu itu kenapa sich? Sok menutup aurat segala. Biasanya aja pakai teng top sama celana pendek, kok sekarang jadi berubah gini.....Gag asyik banget!” ucap Tera
“Semenjak kejadian di mall, aku mutusin buat menutup aurat. Aku enggak mau dilecehin lagi sama cowok. Memang ada manfaatnya Islam menyuruh kita menutup aurat agar tidak ada orang yang mengganggu kita, karena pakaian kita tertutup.”
“Haduh ngapain masih mikirin kejadian waktu itu, udahlah lupain aja. Kamu tuh berubah banget, jadi sok nasehatin kita! Pikiran kamu tuh udah ga sejalan sama kita!”
“Ya udahlah kalau memang kalian ga suka, lebih baik aku pulang saja. Aku juga ga senang dengan gaya hidup kalian!”
“Ya udah sana pulang, nyesel aku punya sahabat kaya kamu!” ucap Tera marah.
***
            Tita duduk di bangku taman, sambil merenung.Tiba-tiba Nasya, teman sekelas Tita datang menghampiri Tita.
“Ta....kamu ngapain disini? Kok enggak main sama Mila dan Tera?”
“Eh kamu Sya, enggak, aku udah enggak sahabatan sama mereka lagi. Mereka enggak suka perubahanku...”
“Kok bisa, ada sahabatnya berubah ke arah positif justru dijauhi? Harusnya mereka seneng dong.”
“Aku juga gag tau Sya, eh ya Sya...kamu mau ga jadi temanku? Aku ingin belajar banyak dari kamu....”
“Bukannya dari dulu aku teman kamu?! Syukurlah kamu sudah mau berubah. Dengan senang hati aku mau ngajarin kamu lebih banyak tentang islam.”
“Makasih ya.....”
***
            Sejak saat itu Tita dan Nasya bersahabat. Tita senang bergaul sama Nasya karena dia orangnya sederhana dan apa adanya. Sabar banget ngadepin Tita. Namun suatu hari saat pulang sekolah Tita bertemu dengan Mila dan Tera.
“Wah...wah....sekarang kamu berubah banget ya Ta? Udah sok suci, udah gag inget sama kita! Gag nyangka dulu kita punya sahabat yang pengkhianat!” ucap Tera
“Em...aku gag pernah lupa sama kalian. Kalian tetap sahabatku kok. Cuma aku ga suka sama gaya hidup kalian. Kenapa sich kalian ga mau berubah?”
“Kita udah berubah kok, ga kaya dulu lagi.” ucap Tera berbohong.
“Syukurlah kalau kalian mau berubah, aku senang.”ucap Tita
“Kamu masih mau berteman sama kita kan?” tanya Mila
“Tentu, kalian kan masih sahabatku....”
“Gimana kalau nanti kita ke mall sama makan-makan, yah buat ngrayain persahabatan kita. Mau ga Ta?” ajak Tera
“Hm...gimana ya? Boleh juga....”
***
            Lama kelamaan Tita semakin sering bergabung dengan Tera dan Mila, sekarang dia menjauhi Nasya. Setelah Tita kembali bergaul dengan Tera dan Mila, sedikit demi sedikit Tita berubah. Pakaiannya kembali seperti dulu, tidak memakai jilbab. Dia juga mulai mengabaikan sholat, sering terlambat ke sekolah karena selalu pulang larut malam. Tita merasa kehidupannya yang dulu lebih bebas dan mengasyikkan. Hingga suatu hari Nasya menemui Tita.
“Ta...boleh aku ngomong sama kamu?”
“Boleh, ngomong aja. Gag ada yang melarang kok.” jawab Tita judes
“Kamu kok sekarang jadi berubah kaya dulu lagi? Setiap keluar dari sekolah selalu lepas jilbab, nilai-nilaimu menurun, dan udah gag pernah sholat.”
“Trus apa urusan kamu? Aku jenuh Sya dengan hidupku yang sekarang, aku lebih seneng jalan sama Mila dan Tera,mereka jauh lebih asyik!”
“Kamu sadar enggak, mereka tuh bukan sahabat yang baik buat kamu. Kalau mereka sahabat yang baik harusnya mereka menuntun kamu ke arah kebaikan, bukan justru menjerumuskan kamu kaya gini.” ujar Nasya menasehati.
Tita hanya diam mendengar kata-kata Nasya, dia merenungi perbuatannya. ”Benar selama ini Mila dan Tera tidak pernah memberiku hal positif, yang mereka lakukan hanya foya-foya dan mereka telah menjerumuskan aku, hingga aku dilecehkan karena pakaianku yang tidak menutup aurat. Harusnya aku mengikuti saran Ibu, bahkan Ibu senang jika aku menutup aurat, itu akan lebih baik.Namun Mila dan Tera? Merekalah yang justru menjerumuskan aku seperti ini” gumam Tita dalam hati.
“Kamu benar Sya, aku salah. Harusnya aku sadar kalau mereka bukan sahabat yang baik buat aku.Kamu mau kan maafin aku? Kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
“Ia Ta, aku maafin kamu. Tapi kamu harus janji kamu harus berubah. Kamu tutup aurat kamu itu. Dan jangan pernah menjadikan jilbab itu sebagai hiasan atau bentuk kepatuhan kamu terhadap peraturan,sia-sia saja. Dan percumah kamu pakai jilbab, tapi perbuatan kamu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Wanita berjilbab itu diibaratkan mutiara yang tersimpan di dalam kerang daripada permata yang menyilaukan.”
***
            Sejak saat itu Tita menjadi berubah, dia mau benar-benar menutup auratnya, rajin beribadah dan lebih faham tentang agama.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar