Kamis, 16 Februari 2012

Kenangan Abadi


Adzan shubuh sudah menggema di masjid At-Taqwa,Anisa segera bergegas pergi menuju ke masjid,padahal udara pagi itu sangat dingin.Sampai di masjid dia segera mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah.Setelah selesai menunaikan sholat shubuh Anisa kembali ke rumah,dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.Anisa duduk di kelas XI.IPA,tepatnya di SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO.Karena jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dia harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.
            Tak lama kemudian Anisa telah siap untuk berangkat ke sekolah,lalu dia menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orangtuanya.
“Nis...nanti kamu bawa bekal ya,biar kalau pulang sore tidak telat makan.”ucap Ibu sambil menyerahkan kotak makan.
“Baik bu,oh iya Anis minta izin pulang terlambat,rencananya nanti sepulang sekolah aku akan mengikuti bimbingan menulis.”ucap Anisa
“Buat apa kamu ikut bimbingan menulis seperti itu? Yang penting kamu sekolah dulu yang sungguh-sungguh lalu kerja cari uang,membantu bapak dan ibumu yang sudah tua.”kata bapak
“Pak...itu kan buat nambah pengalaman lagi pula kegiatan seperti itu tidak mengganggu belajar Anis,Pak....”terang Anisa
“Bapak tidak setuju kalau kamu jadi penulis!Penulis itu seperti orang tidak punya kerjaan.”kata Bapak tidak setuju.
“Pak...kata guru Anis,menulis itu bisa menghasilkan uang,lagipula menulis itu menyenangkan Pak....”bela Anisa
“Pokoknya bapak tidak setuju!”bentak bapak
            Anisa hanya diam mendengar ketidaksetujuan Bapaknya.Lalu dia bergegas berangkat ke sekolah.
***
Dengan hati yang tidak karuan dia berjalan menuju kelas,ditengah  jalan dengan tidak sengaja Anisa menabrak seorang cowok hingga membuat buku yang di bawa Anisa berjatuhan.
“Maaf......maaf aku tidak sengaja?”ucap cowok tersebut sambil membantu Anisa membereskan buku yang berserakan.
“Tidak apa-apa aku yang ceroboh”ucap Anisa dengan lembut.
Cowok tersebut lalu bergegas meninggalkan Anisa.Kemudian Anisa bergegas masuk ke dalam ruang bahasa Arab.
“Sudahkah kamu mengerjakan PR?”tanya Dewi.
“Sudah semalam”jawab Anisa
“Tampaknya hari ini kamu sedang tidak bersemangat? Ada apa gerangan?”tanya Dewi ingin tahu.
“Bapakku tidak setuju Wi,jika aku ikut bimbingan menulis”ucap Anisa
“Hm....mungkin bapakmu belum tahu lebih dalam tentang penulis itu,jadi bapakmu belum yakin.”ujar Dewi menasehati.
            Bel berbunyi,Ustadzah Erfika telah masuk ke dalam kelas.Namun,dia tidak sendirian di belakangnya ada seoarang cowok,nampaknya dia anak baru.Anisa terkejut ketika cowok itu menuju ke bangkunya dan duduk di sampingnya.Setengah jam berlalu mereka hanya diam,tanpa mengatakan sepatah katapun,lalu Anisa angkat bicara.
“Siapa namamu?”tanya Anisa
“Amar,kalau kamu siapa?
“Anisa,senang berkenalan denganmu Amar.”
“Ia,semoga kita bisa berteman baik.”
***
            Pelajaran bahasa Arab pun telah usai,bel istirahat berbunyi aku bergegas mengambil mukena dan menuju ke masjid untuk sholat dhuha.Aku memang terbiasa melaksanakan sholat dhuha,apalagi saat ini fikiranku sedang kacau,teringat kata-kat bapak yang tidak mengizinkan aku menjadi penulis.Sampai di masjid aku segera mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat dhuha.Seusai sholat Anisa masih duduk terdiam di masjid sambil menenangkan diri,Dia bingung apakah dia harus berhenti berangan-angan jadi penulis demi orang tuanya atau membantah orang tuanya dan tetap menjadi penulis.Selama ini dia tidak pernah mengecewakan keinginan orang tuanya, apakah sekarang dia harus  membantah orang tuanya demi menjadi seorang penulis? Anisa sangat bingung,dia berdoa kepada Allah dan memohon yang terbaik.
***
            Sepulang sekolah Anisa tetap mengikuti pelatihan menulis,meskipun dia ragu.Saat pelatihan berlangsung Anisa sangat memperhatikan apa yang di sampaikan oleh Pembimbing.Rupanya keinginannya untuk menjadi penulis sangat besar.Setelah pelatihan selesai Anisa bergegas pulang karena hari sudah sore,dia takut terkena marah bapaknya.
            Sampai di rumah,bapak sedang duduk di teras bersama ibu.Perasaanku sudah tidak karuan,aku yakin bapak akan bertanya macam-macam padaku.
“Assalamualaikum”ucap Anisa
“Waalaikum salam”ucap bapak dan ibu serempak.
“Dari mana pulang sesore ini? Bimbingan menulis?”tanya bapak
“I...iya pak.”ucap Anisa gugup
“Bapak tidak mengizinkan kamu jadi penulis,kenapa kamu masih membantah bapak?”
“Maafkan Anisa pak,keinginan Anisa menjadi penulis terlalu besar,hingga membuat Anis tidak bisa menuruti ucapan bapak.”ucap Anisa sambil terisak
“Terserah kamu,bapak sudah menyarankan jalan yang terbaik buat hidupmu kelak,tapi kamu justru memilih jalan lain.”ucap bapak lalu masuk ke dalam rumah.
“Yang sabar Nis,ibu tahu keinginan kamu menjadi penulis sangat besar.Sabarlah sedikit tunggu sampai hati bapakmu tenang,lalu kamu bicara baik-baik padanya”ucap ibu menenangkan Anisa
“Iya bu,ya sudah Anisa pergi mandi dulu lalu sholat ashar.”
            Setelah selesai sholat Anisa mengambil buku dan alat tulis,kemudian dia pergi ke sawah,di sana ada sebuah rumah bambu tempat dia menghabiskan waktu sepulang sekolah,lagipula Anisa sudah lama tidak kesana.Di tempat itu juga setiap sore Anisa selalu mengajar anak-anak kecil untuk mengaji.Sesampainya dia di rumah bambu suasana tampak ceria anak-anak tersebut berlari menghampiri Anisa,perasaan Anisa pun berubah ceria,Arman sahabat Anisa pun ikut senang melihat kedatangan Anisa.
“Tampaknya sudah lama kamu tidak berkunjung ke sini,sedang sibuk ya?”tanya Arman.
“Ia Man...akhir-akhir ini aku cukup sibuk,apalagi aku sedang ada masalah”
“Kalau boleh tahu,masalah apa Nis? Siapa tahu aku bisa membantu...”
“Bapakku tidak setuju kalau aku jadi penulis.”
“Oh itu masalahnya,itu hanya masalah waktu Nis,kalau Bapakmu sudah melihat karya-karyamu pasti dia akan setuju.”
“Ya semoga saja”
“Lama tidak bertemu tampaknya kamu semakin cantik Nis....”
“Terima kasih,kamu itu selalu memperhatikan aku”ucap Anisa tersipu
“Nis...sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini....”
“Hal apa Man?”
“Aku menyukaimu Nis,aku tahu mungkin kamu tidak mau berpacaran,tapi bolehkah aku tahu bagaimana perasaanmu padaku?”
“Arman kita sudah berteman sejak kecil dan perasaanku padamu hanya sebatas teman saja,ku harap kamu mengerti”
“Sama sekali tidak ada perasaan lain?”ucap Arman meyakinkan
“Ia Arman,kau tahu aku tidak akan pacaran dan aku sudah menganggapmu sebagai sahabat”
“Baiklah jika itu keputusanmu,insyaAllah aku akan menerima.”
***
            Hari Minggu pagi matahari bersinar cerah,Anisa akan pergi menemui Amar untuk menyerahkan novel yang telah selesai dia buat.Sejak perkenalan itu Anisa dan Amar memang semakin dekat,banyak kesamaan yang membuat mereka cocok.Amar juga suka menulis,maka dari itu mereka sering bertukar pikiran.Mereka sepakat untuk bertemu di Perpusda, Amar akan membantu Anisa untuk mengirimkan novelnya ke Penerbit.Kebetulan pemilik Penerbitan tersebut adalah Ayah Amar.Sampai di Perpusda ternyata Amar telah berada di sana.
“Hai Amar,maaf sudah membuatmu menunggu?”
“Tidak apa-apa,aku juga baru saja sampai.Mana datanya,biar nanti aku serahakan kepada Ayahku siapa tahu Ayah suka dan mau menerbitkannya.”
“Oh iya ini ada di dalam flashdisk,amin....Semoga bisa di terbitkan.”ucap Anisa sambil menyerahkan flashdisk pada Amar.
“Bagaimana dengan Bapakmu Nis? Apakah dia setuju?”
“Bapakku tidak tahu aku menulis novel,aku pergi kesini juga diam-diam takut di tanya macam-macam.Aku berharap novelku bisa diterbitkan dan Bapakku akan tahu tentang karyaku,tentang cita-citaku dan tekadku yang besar untuk menjadi penulis”
“Iya,aku akan selalu mendoakanmu Nis.Aku yakin setelah novel ini terbit bapakmu pasti akan mengizinkanmu,percayalah.Oh ya aku senang bisa dekat dengan cewek yang pantang menyerah sepertimu.Aku juga senang jika berada di dekatmu,kamu tahu maksudku kan?”
“Memang apa maksudmu? Aku sungguh tak mengerti...”
“Aku menyukaimu Nis... ,sejak kita pertama bertemu.Maukah kamu jadi pacarku Nis?”
Anisa hanya terdiam mendengar ucapan Amar,dia tidak menyangka Amar menyukainya.Jujur Anisa juga menyukai Amar,namun dia tidak bisa bersama Amar karena Anisa tidak akan mau berpacaran.Menurutnya pacaran itu lebih banyak mudhartnya daripada manfaatnya.
“Nis....kamu kenapa?”
“Maaf Mar,aku tidak bisa menerima kamu.Aku tidak suka berpacaran”
“Tapi kamu menyukai aku juga kan? Apa salahnya pacaran,asalkan kita tidak melakukan hal di luar batas kewajaran.”
“Ya, aku memang menyukaimu,tapi maaf  Mar,aku tetap tidak bisa.Kuharap kamu mengerti.Sekarang ini aku ingin fokus pada sekolah dan cita-citaku”
“Tapi aku sungguh mencintai kamu”
“Lebih baik kamu pasrahkan rasa cinta kamu kepada Allah,Dialah yang Maha Mengetahui,kalau kita jodoh pasti Allah akan mempersatukan kita.Ya sudah aku pulang dulu,terima kasih kamu mau membantuku dan aku berharap bantuan kamu itu tulus bukan karena kamu menyukaiku.”
“Baiklah aku terima itu semua dan aku memang tulus membantumu,bukan karena aku ingin mendapatkanmu.”
            Setelah berpamitan .Anisa pergi meninggalkan Amar sendiri.Namun,ketika pulang di jalan dia tidak berkonsentrasi,dia tidak sadar ada mobil yang melaju kencang di belakangnya,mobil itu kemudian menabrak tubuh Anisa,seketika Anisa terlempar ke pinggir jalan dan kepalanya membentur pembatas jalan.Mobil yang menabraknya justru melarikan diri,orang yang melihat kejadian itu langsung menolong dan membawa Anisa ke rumah sakit namun karena pendarahan yang cukup parah nyawa Anisa tidak tertolong.Pihak rumah sakit lalu menghubungi keluarga Anisa,Bapak Anisa begitu terkejut dan tidak percaya bahwa anak semata wayangnya meninggal dengan cara seperti ini.
            Saat pemakaman orang tua dan teman-teman Anisa begitu berduka.Selama ini Anisa dikenal sebagai anak yang baik,sopan dan pantang menyerah.Begitupun dengan Amar dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya sudah tiada.
***
            Sebualan setelah kematian Anisa,novel karya Anisa berhasil di terbitkan dan respon masyarakat sangat baik.Ketika orang tua Anisa mengetahui hal itu,rasa penyesalan menyelimuti Bapak Anisa,kini dia menyadari kekeliruannya yang melarang Anisa untuk jadi seorang penulis,namun apa daya nasi sudah menjadi bubur,menyesal tiada gunanya.Walaupun begitu dia merasakan suatu kebanggaan pada Anisa meskipun kini Anisa telah tiada namun dia meninggalkan karya-karya terbaiknya,berupa goresan tinta dan kata-kata yang indah.Anisa memang telah tiada namun namanya akan terkenang dan menjadi suatu kenangan yang terindah untuk orang-orang yang begitu menyayangi Anisa.......
***

Hijab Ku


Jilbab......
Sesuatu yang tidak asing untuk kaum hawa, kini sebagian besar kaum hawa mengenakan jilbab.Sungguh gembira dengan penampilan remaja kita yang lebih ”hijau” dengan jilbab. Semoga berjilbab terjadi berasal dari kesadaran diri, bukan sekedar  tren. Jadi, jilbab bukan hanya asesoris atau sebagai hiasan saja untuk menutupi kekurangan diri, pastikan bahwa nilai islam juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku kita. Bila tidak bisa-bisa kita terpeleset pada perilaku negatif. Acapkali terjadi jilbab atau asesoris islam mendapat citra negatif karena ulah kita sendiri. ”Ah, yang pake jilbab aja pacarannya kuat” atau “Ah pakai jilbab hanya di sekolah, di luar sekolah ya sudah membuka aurat” misalkan. Jadi, jangan biarkan orang lain melecehkan kita hanya gara-gara kelemahan ilmu-ilmu agama kita.


HIJAB KU

 
Matahari telah menampakkan sinarnya,hingga menerobos jendela kamar Tita. Udara yang cukup dingin dan rasa lelah begadang semalaman demi pergi ke acara ulang tahun kawannya membuat dia enggan untuk pergi dari kasurnya yang empuk. Entah sudah berapa kali Ibu membangunkan Tita namun dia tetap tidak mau bangun.
“Tok.....tok.....tok”  terdengar pintu kamar Tita diketuk cukup keras.
“Tita!!!! Bangun...apa kamu tidak mau sekolah...!?”
“Ia bu, Tita bangun sekarang...” ucap Tita sambil berusaha bangkit.
Setelah setengah jam Tita pun keluar dari kamarnya, dia sudah siap dengan pakaian muslimnya. Tita bersekolah di SMA Harapan, yang berbasis Islami. Kini dia duduk di kelas XI.IPA. Bergegas dia berangkat sekolah tanpa berpamitan pada orang tuanya dan segera memacu motornya. Melihat kelakuan anaknya itu Ibunya hanya diam saja, dia sudah lelah menasehati Tita, kelakuannya tidak pernah berubah. Bahkan, kelakuan Tita sudah mulai kelewat batas, mulai dari bolos sekolah dan pergi ke mall, keluar malam bahkan sekarang pun ia sudah mulai membuka auratnya setiap kali sudah keluar dari lingkungan sekolah, sepertinya jilbab tidak penting baginya, hanya untuk mematuhi kewajiban di sekolah saja.
***
Sampai di sekolah Tita tidak langsung menuju ke kelas namun dia mampir ke kantin untuk sarapan. Di tengah jalan dia bertemu temannya Vivi.
“Hai Ta, gimana acaranya semalam asyik kan?”
“Jelas dong, acaranya asyik gag bikin bete,tapi sayang begitu pulang,nyokap marah-marah.”
“Udah lah,biarin aja. Kamu mau makan? Yuk aku traktir...”
“Ok dech...”
            Setelah makan di kantin Tita bergegas menuju ke kelas, sesampainya di kelas dia langsung di sambut oleh dua sahabatnya, Tera dan Mila.
“Ta, bolos aja yuk ? Males banget nich aku, apalagi sekarang pelajaran Akhlak, kebanyakan ceramah, telingaku panas !” ucap Tera
“Hm...bener juga sich, tapi bisa-bisa orang tuaku di panggil nich! Coba udah berapa kali aku bolos pelajaran?!”
“Ah kamu ini gimana, paling juga di panggil trus di kasih peringatan. Udah kan selesai.” ucap Mila
“Hm...tapi boleh juga, ya udah yuk cabut...! Pelajaran agama tuh cuma bikin ngantuk!” ucap Tita.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke mall. Sesampainya di mall, mereka berganti pakaian, namun pakaian mereka sangat menonjol dan cenderung mengumbar aurat.
            Saat berjalan-jalan Tita dan kedua sahabatnya bertemu dengan Rio dan kawan-kawannya, di sekolah Rio terkenal jahil. Saat mereka bertemu, Rio pun menggoda Tita yang berpakaian minim.
“Ta....kamu cantik banget sich? Bajunya kurang bahan ya? Apa perlu aku beliin? ” ucap Rio diikuti gelak tawa teman-temannya.
“Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?” ucap Tita
“Habis salah siapa kamu pake pakaian kaya gitu?! Jalan-jalan ke mall cuma buat pamer aurat, buat cari perhatian ? apa kamu bangga nunjukin aurat kamu kayak gitu?” ucap Rio lagi.
“Memangnya kamu siapa aku? Pakai nglarang-nglarang gitu!” ucap Tita marah
            Karena tidak tahan di lecehkan terus menerus Tita pun tanpa sadar mengalirkan air mata, lalu dia pergi begitu saja. Kedua sahabatnya lalu mengejar Tita sampai di tempat parkir.
“Ta...udahlah paling juga Rio bercanda. Dia kan anaknya jahil.” ucap Mila menenangkan.
“Tapi Mil, aku merasa dilecehkan, hati aku sakit banget! Baru kali ini ada cowok yang bilang kaya gitu ke aku. Gimana harga diri aku coba?!” Tita pun menangis dan meninggalkan dua orang sahabatnya tadi.
***
            Sampai di rumah Tita langsung masuk ke kamar, Ibu yang melihat Tita menangis menjadi khawatir dan menemui Tita di kamar.
“Tita....boleh Ibu masuk nak?” ucap Ibu di depan pintu kamar Tita
“Iya bu....”
“Kamu kenapa sayang? Kok jam segini udah pulang?” tanya Ibu sambil mengelus-elus rambut Tita.
“Tita bolos bu, tadi Tita pergi ke mall”
“Bolos lagi?! Lalu kenapa kamu pakai pakaian kaya gitu, kamu gag pantas sayang pakai pakaian seperti itu, Ibu enggak pernah ngajarin kamu kaya gitu kan?”
“Iya bu ...Tita tahu, Tita memang salah. Karena pakaian ini, tadi Tita dilecehkan teman Tita bu..... , baru kali ini ada cowok yang berani ngomong kaya gitu ke Tita, Tita sakit bu! Sepertinya harga diri Tita udah enggak ada lagi!” ucap Tita sambil terus menangis.
“Trus, sekarang Tita mau gimana? Apa Tita gag mau berubah setelah dilecehkan? Tita mau terus dilecehkan teman-teman Tita?” ujar ibu menasehati
“Mulai sekarang Tita ingin berubah bu....Tita sadar selama ini Tita salah.”
“Apa Ibu bisa pegang omongan kamu?”
“Iya bu, Tita janji Tita bakal berubah. Tita ingin jadi anak baik, seperti yang Ibu inginkan.”
***
            Ketika adzan shubuh berkumandang, Tita bergegas bangun dan mengambil air wudlu, ibu yang melihat perubahan Tita pun merasa heran. Tidak biasanya Tita sholat, apalagi sholat shubuh. Setelah mandi dan siap-siap Tita bergegas berangkat ke sekolah, tak lupa dia mencium tangan ibunya.
“Wah..Tita sekarang berubah ya, jauh lebih sopan sama Ibu?”tanya ibu heran
“Ia bu, Tita kan udah janji mau berubah.”
“Syukurlah, kamu mau berubah. Semoga bukan hanya sementara tapi selamanya. Ya sudah sana berangkat, nanti terlambat.”
“Amin, ya udah Tita berangkat bu, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
            Sampai di sekolah, dia bertemu Mila dan Tera, mereka mengajak Tita untuk bolos lagi dan main ke mall.
“Ta, bolos lagi yuk? Aku lagi bete nich...” ajak Tera
“Enggak lah, hari ini ada pelajaran penting, takut nanti ketinggalan.” jawab Tita
“Biasanya kalau suruh bolos kamu paling semangat, ayolah.....paling juga pelajaran Matematika......” bujuk Tera
“Enggak lah. Aku ga bisa sekarang.”
“Ya udah kalau gitu ntar pulang sekolah gimana?” ajak Mila
“Emmm....ya udah aku mau tapi ntar pulang sekolah ya.....”
“Ok dechh.....”jawab Mila
***
            Sampai di depan mall wajah Mila dan Tera berbinar-binar, berbeda dengan Tita yang tampak murung. Mereka lekas pergi ke toilet untuk ganti baju, namun Tita hanya diam di depan pintu toilet menunggu dua sahabatnya itu.
“Ta!!! Cepet ganti baju, kita udah selesai nich. Jangan bengong aja?!” ucap Tera
“Aku ga mau ganti baju, pakai seragam aja...”
“Haa??  Yang bener kamu? Masa shooping pake seragam, jelek tahu...!”ucap Mila
“Aku gag punya baju panjang di rumah jadi aku pakai seragam aja yang panjang, kan biar menutup aurat.”
“Haduh Tita...! Kamu itu kenapa sich? Sok menutup aurat segala. Biasanya aja pakai teng top sama celana pendek, kok sekarang jadi berubah gini.....Gag asyik banget!” ucap Tera
“Semenjak kejadian di mall, aku mutusin buat menutup aurat. Aku enggak mau dilecehin lagi sama cowok. Memang ada manfaatnya Islam menyuruh kita menutup aurat agar tidak ada orang yang mengganggu kita, karena pakaian kita tertutup.”
“Haduh ngapain masih mikirin kejadian waktu itu, udahlah lupain aja. Kamu tuh berubah banget, jadi sok nasehatin kita! Pikiran kamu tuh udah ga sejalan sama kita!”
“Ya udahlah kalau memang kalian ga suka, lebih baik aku pulang saja. Aku juga ga senang dengan gaya hidup kalian!”
“Ya udah sana pulang, nyesel aku punya sahabat kaya kamu!” ucap Tera marah.
***
            Tita duduk di bangku taman, sambil merenung.Tiba-tiba Nasya, teman sekelas Tita datang menghampiri Tita.
“Ta....kamu ngapain disini? Kok enggak main sama Mila dan Tera?”
“Eh kamu Sya, enggak, aku udah enggak sahabatan sama mereka lagi. Mereka enggak suka perubahanku...”
“Kok bisa, ada sahabatnya berubah ke arah positif justru dijauhi? Harusnya mereka seneng dong.”
“Aku juga gag tau Sya, eh ya Sya...kamu mau ga jadi temanku? Aku ingin belajar banyak dari kamu....”
“Bukannya dari dulu aku teman kamu?! Syukurlah kamu sudah mau berubah. Dengan senang hati aku mau ngajarin kamu lebih banyak tentang islam.”
“Makasih ya.....”
***
            Sejak saat itu Tita dan Nasya bersahabat. Tita senang bergaul sama Nasya karena dia orangnya sederhana dan apa adanya. Sabar banget ngadepin Tita. Namun suatu hari saat pulang sekolah Tita bertemu dengan Mila dan Tera.
“Wah...wah....sekarang kamu berubah banget ya Ta? Udah sok suci, udah gag inget sama kita! Gag nyangka dulu kita punya sahabat yang pengkhianat!” ucap Tera
“Em...aku gag pernah lupa sama kalian. Kalian tetap sahabatku kok. Cuma aku ga suka sama gaya hidup kalian. Kenapa sich kalian ga mau berubah?”
“Kita udah berubah kok, ga kaya dulu lagi.” ucap Tera berbohong.
“Syukurlah kalau kalian mau berubah, aku senang.”ucap Tita
“Kamu masih mau berteman sama kita kan?” tanya Mila
“Tentu, kalian kan masih sahabatku....”
“Gimana kalau nanti kita ke mall sama makan-makan, yah buat ngrayain persahabatan kita. Mau ga Ta?” ajak Tera
“Hm...gimana ya? Boleh juga....”
***
            Lama kelamaan Tita semakin sering bergabung dengan Tera dan Mila, sekarang dia menjauhi Nasya. Setelah Tita kembali bergaul dengan Tera dan Mila, sedikit demi sedikit Tita berubah. Pakaiannya kembali seperti dulu, tidak memakai jilbab. Dia juga mulai mengabaikan sholat, sering terlambat ke sekolah karena selalu pulang larut malam. Tita merasa kehidupannya yang dulu lebih bebas dan mengasyikkan. Hingga suatu hari Nasya menemui Tita.
“Ta...boleh aku ngomong sama kamu?”
“Boleh, ngomong aja. Gag ada yang melarang kok.” jawab Tita judes
“Kamu kok sekarang jadi berubah kaya dulu lagi? Setiap keluar dari sekolah selalu lepas jilbab, nilai-nilaimu menurun, dan udah gag pernah sholat.”
“Trus apa urusan kamu? Aku jenuh Sya dengan hidupku yang sekarang, aku lebih seneng jalan sama Mila dan Tera,mereka jauh lebih asyik!”
“Kamu sadar enggak, mereka tuh bukan sahabat yang baik buat kamu. Kalau mereka sahabat yang baik harusnya mereka menuntun kamu ke arah kebaikan, bukan justru menjerumuskan kamu kaya gini.” ujar Nasya menasehati.
Tita hanya diam mendengar kata-kata Nasya, dia merenungi perbuatannya. ”Benar selama ini Mila dan Tera tidak pernah memberiku hal positif, yang mereka lakukan hanya foya-foya dan mereka telah menjerumuskan aku, hingga aku dilecehkan karena pakaianku yang tidak menutup aurat. Harusnya aku mengikuti saran Ibu, bahkan Ibu senang jika aku menutup aurat, itu akan lebih baik.Namun Mila dan Tera? Merekalah yang justru menjerumuskan aku seperti ini” gumam Tita dalam hati.
“Kamu benar Sya, aku salah. Harusnya aku sadar kalau mereka bukan sahabat yang baik buat aku.Kamu mau kan maafin aku? Kamu masih mau jadi sahabat aku kan?”
“Ia Ta, aku maafin kamu. Tapi kamu harus janji kamu harus berubah. Kamu tutup aurat kamu itu. Dan jangan pernah menjadikan jilbab itu sebagai hiasan atau bentuk kepatuhan kamu terhadap peraturan,sia-sia saja. Dan percumah kamu pakai jilbab, tapi perbuatan kamu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Wanita berjilbab itu diibaratkan mutiara yang tersimpan di dalam kerang daripada permata yang menyilaukan.”
***
            Sejak saat itu Tita menjadi berubah, dia mau benar-benar menutup auratnya, rajin beribadah dan lebih faham tentang agama.
***



Bukan Rasa yang Salah


Inikah rasa yang kau berikan padaku Ya Allah.........
Rasa cinta yang tak bisa ku tolak
Rasa sakit yang tak bisa dihindari
Rasa cemas akan sebuah penantian
Rasa rindu yang terus mengejarku
Rasa yang tak pernah bisa ku tolak satupun
Dan ketika aku terjebak dalam rasa cinta itu, seolah bayangnya tak mau pergi dari hadapku
Akal sehatku lenyap
Seketika aku lemah karena cinta
Seakan aku menyerah dengan kepasrahan cinta ini
Hati yang tak bisa lepas dari cinta kepada manusia
Sungguh berdosanya aku,
Begitu mencintai seorang manusia
Bisakah aku mencintainya karena engkau Ya Allah?
Kenapa seketika aku luluh akan rasa ini Ya Allah?
Kenapa aku tak bisa menghindari rasa ini?
Aku mencintainya .....
Aku menyayanginya......
Walau mungkin dia belum sepenuhnya menjadi apa yang aku inginkan...
Namun kenyataannya, aku menyayanginya.....
Aku takut mengakhiri cinta ini, aku takut ini menyakitkan.....
Bagaimana aku harus melalui semua ini.....
Bagaimana aku bisa menolak rasa yang Engkau  anugrahkan pada setiap manusia????