Adzan
shubuh sudah menggema di masjid At-Taqwa,Anisa segera bergegas pergi menuju ke
masjid,padahal udara pagi itu sangat dingin.Sampai di masjid dia segera
mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat shubuh
berjamaah.Setelah selesai menunaikan sholat shubuh Anisa kembali ke rumah,dia
bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.Anisa duduk di kelas XI.IPA,tepatnya di SMA
MUHAMMADIYAH WONOSOBO.Karena jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh dia harus
berangkat lebih awal agar tidak terlambat.
Tak lama kemudian Anisa telah siap untuk berangkat ke
sekolah,lalu dia menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orangtuanya.
“Nis...nanti kamu bawa
bekal ya,biar kalau pulang sore tidak telat makan.”ucap Ibu sambil menyerahkan
kotak makan.
“Baik bu,oh iya Anis
minta izin pulang terlambat,rencananya nanti sepulang sekolah aku akan
mengikuti bimbingan menulis.”ucap Anisa
“Buat apa kamu ikut
bimbingan menulis seperti itu? Yang penting kamu sekolah dulu yang
sungguh-sungguh lalu kerja cari uang,membantu bapak dan ibumu yang sudah
tua.”kata bapak
“Pak...itu kan buat
nambah pengalaman lagi pula kegiatan seperti itu tidak mengganggu belajar
Anis,Pak....”terang Anisa
“Bapak tidak setuju
kalau kamu jadi penulis!Penulis itu seperti orang tidak punya kerjaan.”kata
Bapak tidak setuju.
“Pak...kata guru
Anis,menulis itu bisa menghasilkan uang,lagipula menulis itu menyenangkan
Pak....”bela Anisa
“Pokoknya bapak tidak
setuju!”bentak bapak
Anisa hanya diam mendengar ketidaksetujuan Bapaknya.Lalu
dia bergegas berangkat ke sekolah.
***
Dengan
hati yang tidak karuan dia berjalan menuju kelas,ditengah jalan dengan tidak sengaja Anisa menabrak
seorang cowok hingga membuat buku yang di bawa Anisa berjatuhan.
“Maaf......maaf aku
tidak sengaja?”ucap cowok tersebut sambil membantu Anisa membereskan buku yang
berserakan.
“Tidak apa-apa aku yang
ceroboh”ucap Anisa dengan lembut.
Cowok tersebut lalu
bergegas meninggalkan Anisa.Kemudian Anisa bergegas masuk ke dalam ruang bahasa
Arab.
“Sudahkah kamu
mengerjakan PR?”tanya Dewi.
“Sudah semalam”jawab
Anisa
“Tampaknya hari ini
kamu sedang tidak bersemangat? Ada apa gerangan?”tanya Dewi ingin tahu.
“Bapakku tidak setuju
Wi,jika aku ikut bimbingan menulis”ucap Anisa
“Hm....mungkin bapakmu
belum tahu lebih dalam tentang penulis itu,jadi bapakmu belum yakin.”ujar Dewi
menasehati.
Bel berbunyi,Ustadzah Erfika telah masuk ke dalam
kelas.Namun,dia tidak sendirian di belakangnya ada seoarang cowok,nampaknya dia
anak baru.Anisa terkejut ketika cowok itu menuju ke bangkunya dan duduk di
sampingnya.Setengah jam berlalu mereka hanya diam,tanpa mengatakan sepatah
katapun,lalu Anisa angkat bicara.
“Siapa namamu?”tanya
Anisa
“Amar,kalau kamu siapa?
“Anisa,senang
berkenalan denganmu Amar.”
“Ia,semoga kita bisa
berteman baik.”
***
Pelajaran bahasa Arab pun telah usai,bel istirahat
berbunyi aku bergegas mengambil mukena dan menuju ke masjid untuk sholat
dhuha.Aku memang terbiasa melaksanakan sholat dhuha,apalagi saat ini fikiranku
sedang kacau,teringat kata-kat bapak yang tidak mengizinkan aku menjadi
penulis.Sampai di masjid aku segera mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat
dhuha.Seusai sholat Anisa masih duduk terdiam di masjid sambil menenangkan
diri,Dia bingung apakah dia harus berhenti berangan-angan jadi penulis demi
orang tuanya atau membantah orang tuanya dan tetap menjadi penulis.Selama ini
dia tidak pernah mengecewakan keinginan orang tuanya, apakah sekarang dia
harus membantah orang tuanya demi menjadi
seorang penulis? Anisa sangat bingung,dia berdoa kepada Allah dan memohon yang
terbaik.
***
Sepulang sekolah Anisa tetap mengikuti pelatihan
menulis,meskipun dia ragu.Saat pelatihan berlangsung Anisa sangat memperhatikan
apa yang di sampaikan oleh Pembimbing.Rupanya keinginannya untuk menjadi
penulis sangat besar.Setelah pelatihan selesai Anisa bergegas pulang karena
hari sudah sore,dia takut terkena marah bapaknya.
Sampai di rumah,bapak sedang duduk di teras bersama
ibu.Perasaanku sudah tidak karuan,aku yakin bapak akan bertanya macam-macam
padaku.
“Assalamualaikum”ucap
Anisa
“Waalaikum salam”ucap
bapak dan ibu serempak.
“Dari mana pulang
sesore ini? Bimbingan menulis?”tanya bapak
“I...iya pak.”ucap
Anisa gugup
“Bapak tidak
mengizinkan kamu jadi penulis,kenapa kamu masih membantah bapak?”
“Maafkan Anisa
pak,keinginan Anisa menjadi penulis terlalu besar,hingga membuat Anis tidak
bisa menuruti ucapan bapak.”ucap Anisa sambil terisak
“Terserah kamu,bapak
sudah menyarankan jalan yang terbaik buat hidupmu kelak,tapi kamu justru
memilih jalan lain.”ucap bapak lalu masuk ke dalam rumah.
“Yang sabar Nis,ibu
tahu keinginan kamu menjadi penulis sangat besar.Sabarlah sedikit tunggu sampai
hati bapakmu tenang,lalu kamu bicara baik-baik padanya”ucap ibu menenangkan
Anisa
“Iya bu,ya sudah Anisa
pergi mandi dulu lalu sholat ashar.”
Setelah selesai sholat Anisa mengambil buku dan alat
tulis,kemudian dia pergi ke sawah,di sana ada sebuah rumah bambu tempat dia
menghabiskan waktu sepulang sekolah,lagipula Anisa sudah lama tidak kesana.Di
tempat itu juga setiap sore Anisa selalu mengajar anak-anak kecil untuk
mengaji.Sesampainya dia di rumah bambu suasana tampak ceria anak-anak tersebut
berlari menghampiri Anisa,perasaan Anisa pun berubah ceria,Arman sahabat Anisa
pun ikut senang melihat kedatangan Anisa.
“Tampaknya sudah lama
kamu tidak berkunjung ke sini,sedang sibuk ya?”tanya Arman.
“Ia Man...akhir-akhir
ini aku cukup sibuk,apalagi aku sedang ada masalah”
“Kalau boleh
tahu,masalah apa Nis? Siapa tahu aku bisa membantu...”
“Bapakku tidak setuju
kalau aku jadi penulis.”
“Oh itu masalahnya,itu
hanya masalah waktu Nis,kalau Bapakmu sudah melihat karya-karyamu pasti dia
akan setuju.”
“Ya semoga saja”
“Lama tidak bertemu
tampaknya kamu semakin cantik Nis....”
“Terima kasih,kamu itu
selalu memperhatikan aku”ucap Anisa tersipu
“Nis...sebenarnya sudah
lama aku ingin mengatakan hal ini....”
“Hal apa Man?”
“Aku menyukaimu Nis,aku
tahu mungkin kamu tidak mau berpacaran,tapi bolehkah aku tahu bagaimana
perasaanmu padaku?”
“Arman kita sudah
berteman sejak kecil dan perasaanku padamu hanya sebatas teman saja,ku harap
kamu mengerti”
“Sama sekali tidak ada
perasaan lain?”ucap Arman meyakinkan
“Ia Arman,kau tahu aku
tidak akan pacaran dan aku sudah menganggapmu sebagai sahabat”
“Baiklah jika itu
keputusanmu,insyaAllah aku akan menerima.”
***
Hari Minggu pagi matahari bersinar cerah,Anisa akan pergi
menemui Amar untuk menyerahkan novel yang telah selesai dia buat.Sejak
perkenalan itu Anisa dan Amar memang semakin dekat,banyak kesamaan yang membuat
mereka cocok.Amar juga suka menulis,maka dari itu mereka sering bertukar
pikiran.Mereka sepakat untuk bertemu di Perpusda, Amar akan membantu Anisa
untuk mengirimkan novelnya ke Penerbit.Kebetulan pemilik Penerbitan tersebut
adalah Ayah Amar.Sampai di Perpusda ternyata Amar telah berada di sana.
“Hai Amar,maaf sudah
membuatmu menunggu?”
“Tidak apa-apa,aku juga
baru saja sampai.Mana datanya,biar nanti aku serahakan kepada Ayahku siapa tahu
Ayah suka dan mau menerbitkannya.”
“Oh iya ini ada di
dalam flashdisk,amin....Semoga bisa di terbitkan.”ucap Anisa sambil menyerahkan
flashdisk pada Amar.
“Bagaimana dengan
Bapakmu Nis? Apakah dia setuju?”
“Bapakku tidak tahu aku
menulis novel,aku pergi kesini juga diam-diam takut di tanya macam-macam.Aku
berharap novelku bisa diterbitkan dan Bapakku akan tahu tentang karyaku,tentang
cita-citaku dan tekadku yang besar untuk menjadi penulis”
“Iya,aku akan selalu
mendoakanmu Nis.Aku yakin setelah novel ini terbit bapakmu pasti akan
mengizinkanmu,percayalah.Oh ya aku senang bisa dekat dengan cewek yang pantang
menyerah sepertimu.Aku juga senang jika berada di dekatmu,kamu tahu maksudku
kan?”
“Memang apa maksudmu?
Aku sungguh tak mengerti...”
“Aku menyukaimu Nis...
,sejak kita pertama bertemu.Maukah kamu jadi pacarku Nis?”
Anisa hanya terdiam
mendengar ucapan Amar,dia tidak menyangka Amar menyukainya.Jujur Anisa juga
menyukai Amar,namun dia tidak bisa bersama Amar karena Anisa tidak akan mau berpacaran.Menurutnya
pacaran itu lebih banyak mudhartnya daripada manfaatnya.
“Nis....kamu kenapa?”
“Maaf Mar,aku tidak
bisa menerima kamu.Aku tidak suka berpacaran”
“Tapi kamu menyukai aku
juga kan? Apa salahnya pacaran,asalkan kita tidak melakukan hal di luar batas
kewajaran.”
“Ya, aku memang
menyukaimu,tapi maaf Mar,aku tetap tidak
bisa.Kuharap kamu mengerti.Sekarang ini aku ingin fokus pada sekolah dan
cita-citaku”
“Tapi aku sungguh
mencintai kamu”
“Lebih baik kamu
pasrahkan rasa cinta kamu kepada Allah,Dialah yang Maha Mengetahui,kalau kita
jodoh pasti Allah akan mempersatukan kita.Ya sudah aku pulang dulu,terima kasih
kamu mau membantuku dan aku berharap bantuan kamu itu tulus bukan karena kamu
menyukaiku.”
“Baiklah aku terima itu
semua dan aku memang tulus membantumu,bukan karena aku ingin mendapatkanmu.”
Setelah berpamitan .Anisa pergi meninggalkan Amar
sendiri.Namun,ketika pulang di jalan dia tidak berkonsentrasi,dia tidak sadar
ada mobil yang melaju kencang di belakangnya,mobil itu kemudian menabrak tubuh
Anisa,seketika Anisa terlempar ke pinggir jalan dan kepalanya membentur
pembatas jalan.Mobil yang menabraknya justru melarikan diri,orang yang melihat
kejadian itu langsung menolong dan membawa Anisa ke rumah sakit namun karena
pendarahan yang cukup parah nyawa Anisa tidak tertolong.Pihak rumah sakit lalu
menghubungi keluarga Anisa,Bapak Anisa begitu terkejut dan tidak percaya bahwa
anak semata wayangnya meninggal dengan cara seperti ini.
Saat pemakaman orang tua dan teman-teman Anisa begitu berduka.Selama
ini Anisa dikenal sebagai anak yang baik,sopan dan pantang menyerah.Begitupun
dengan Amar dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya sudah
tiada.
***
Sebualan setelah kematian Anisa,novel karya Anisa
berhasil di terbitkan dan respon masyarakat sangat baik.Ketika orang tua Anisa
mengetahui hal itu,rasa penyesalan menyelimuti Bapak Anisa,kini dia menyadari
kekeliruannya yang melarang Anisa untuk jadi seorang penulis,namun apa daya
nasi sudah menjadi bubur,menyesal tiada gunanya.Walaupun begitu dia merasakan
suatu kebanggaan pada Anisa meskipun kini Anisa telah tiada namun dia
meninggalkan karya-karya terbaiknya,berupa goresan tinta dan kata-kata yang
indah.Anisa memang telah tiada namun namanya akan terkenang dan menjadi suatu
kenangan yang terindah untuk orang-orang yang begitu menyayangi Anisa.......
***