Kadang aku bisa tersenyum walau hanya melihat orang yang kusukai
tertawa bahagia, namun aku juga bisa bersedih saat melihat orang yang kusukai
sedang terluka dan kesulitan. Aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri bahkan
membenci diriku sendiri saat aku tidak bisa berbuat apapun untuk menolong orang
yang kusukai. Aku hanya bisa melihatnya dalam kesulitan tanpa tahu harus
bagaimana. Disisi lain aku ingin menolong dan memberikan perhatian, tapi aku
tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menangisinya dalam hati saat aku tak
berdaya menolongnya.
Aku terkadang harus sering melapangkan hati saat melihatnya bersama
orang lain walaupun mereka hanya sekedar teman. Aku harus terus melihat
pemandangan miris di depan mataku saat dia bermanja-manja dengan orang lain dan
aku tidak berdaya melakukan apapun. Aku berusaha tak memperdulikannya. Aku
berusaha acuh. Aku hanya bisa terus memotivasi diriku untuk menahan egoku yang
tinggi ini. Yah, memang inilah resiko yang harus aku terima jika memilih jatuh
cinta diam-diam. Hanya bisa merasakan jatuh cinta seorang diri dan merasakan
sakit hati akibat ulah diri sendiri.
Lama-kelamaan aku mulai muak dan mencoba menghindari kontak. Aku
mulai mengurangi memperhatikannya. Aku mulai ingin menghindarinya dan
menghindari perasaan yang mestinya memang tak bisa ditolak. Aku lebih ingin
berpikir rasional saat aku mulai menyukai seseorang yang sudah tergambar jelas
dan nyata tidak tertarik padaku. Harusnya setelah aku menyadarinya, aku mulai
beranjak pergi, tapi pada kenyataannya aku tak bisa menolak bayangnya dan
sikapnya yang selalu menyedot perhatianku.
Sudah terlalu jelas di depan mata bahwa cintaku bertepuk sebelah
tangan. Tidak ada yang harus aku sesali, semua telah terlanjur mengalir begitu
saja, salahku terlalu yakin bahwa bukan hanya aku saja yang merasakan hal ini,
pada kenyataannya tidak ada satu celah ruang pun dihatimu yang bisa aku
singgahi~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar