Terkadang kita tidak butuh alasan untuk berhenti mengharapkan
seseorang, bukan berarti kita menyerah dan melupakan begitu saja. Tapi ada saat
dimana kita merasa jauh dengan orang kita sukai, kita merasa jarak yang ada
begitu jauh.
Terkadang kita berhenti berharap tapi bukan berarti melupakan. Rasa
yang tumbuh begitu saja tidak mudah untuk ditaklukan. Butuh proses dan beragam
cara untuk menjinakkan rasa itu.
Terkadang kita merasa lelah, lelah dengan diri kita sendiri, yang
hanya bisa mencuri pandang dan menatap orang yang kita sukai diam-diam.
Terkadang pula terselip support dalam hati yang bisa didengar oleh diri kita
sendiri.
Terkadang kita harus puas hanya dengan menyelipkan doa untuknya di
setiap sujud kita kepaNya. Tidak ada kekuatan lain lagi saat kita jatuh cinta
diam-diam, selain kekuatan doa.
Mungkin hanya lewat doa, kita bisa menyupport dan mecurahkan
perhatian kita kepada orang yang kita sukai.
Walaupun harus jatuh cinta diam-diam, tak ada penyesalan dalam diri
kita. Dengan begitu kita benar-benar diajarkan untuk menjadi orang yang sabar.
Terkadang kita hanya bisa tersenyum saat orang lain memberikan support
untuk orang yang kita sukai dan kita hanya bisa mengeluh kecewa di dalam hati
tanpa bisa mengungkapkan apapun.
Terkadang muncul keinginan dalam benak kita, untuk sekedar tersenyum
dan menyapa, itupun lebih dari cukup.
Terkadang muncul keinginan untuk sekedar mengirimkan pesan singkat
untuk ucapan “selamat pagi” dan “selamat malam”, namun apa daya, kita harus
puas dengan mengucapkannya dalam hati sebelum beranjak tidur.
Tapi, sejauh apapun pengorbanan kita, tidak ada rasa penyesalan
dalam hati. Setidaknya kita telah mencoba untuk belajar mencintai seseorang dan
tenggelam dalam ilusi-ilusi yang kita ciptakan sendiri.
Terkadang kita harus mampu melapangkan dada kita untuk bisa
menjalani tahapan demi tahapan yang berhasil kita lalui. Dan kita harus bisa
menerima kenyataan, bahwa sebenarnya kita hanya “jatuh cinta sendirian”.
5 November 2014, 23.45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar