Jumat, 10 Februari 2012

KELAM


Hingar bingar musik terdengar nyaring di sebuah klub malam, pasangan remaja yang sedang beradu cinta hilir mudik masuk ke tempat hiburan itu. Malam semakin larut , bukan bertambah sepi justru bertambah ramai.
Terlihat sepasang remaja keluar dari tempat hiburan itu. Sang cewek yang bernama Rara terlihat dipapah oleh kekasihnya, Raka.
“Ra, sadar dong! Kamu nyusahin banget pake acara mabuk segala...” ucap Raka.
“Ngapain sih kamu marah-marah gitu? Aku pusing Rak.” ucap Rara.
“Kamu tuh kebanyakan minum, ntar kalau nyokap kamu tahu gimana?”
“Emang nyokap peduli sama aku? Enggak Rak, nyokap selalu mementingkan kerja daripada aku!”
                Tiba-tiba Rara muntah-muntah dan jatuh pingsan, Raka terkejut lalu mengangkat tubuh Rara dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk diantar pulang.

****
                Sinar matahari menelusup masuk lewat tirai jendela yang tersibak. Terlihat seorang cewek yang masih terbaring tak berdaya di tempat tidur, cewek itu tak lain Rara Rusdiantoro. Siswi kelas 2 di sebuah SMA yang cukup populer di Kota Kembang. Bau alkhohol menyengat di ruangan tersebut, bekas mabuik semalam. Terlihat seorang wanita tengah baya memasuki kamar dengan membawa nampan yang berisi segelas susu coklat dan sepiring nasi goreng. Setelah meletakkan nampan di atas meja belajar, wanita itu menghampiri Rara dan mengecup keningnya. Kecupan lembut itu membuat Rara terjaga dan mulai mebuka matanya.
“Selamat pagi sayang, ayo bangun dan sarapan.”ucap wanita itu
“Ngapain mama ada di kamar Rara??”
“Mama Cuma mau nganterin sarapan....”
“Peduli banget!”
“Semalam kamu mabuk lagi???”
“Bukan urusan mama!!”
“Sayang, kamu masih marah sama mama karena tidak pernah memperhatikan kamu? Mama tahu mama salah, tapi kamu ngertiin mama dong....”
“Tapi seenggaknya mama sempetin waktu mama buat sama aku!”
“Kapan-kapan mama usahain, sekarang mama mau berangkat kerja.”
“Rara gak peduli!” ucap Rara sambil beranjak pergi meninggalkan mamanya.

****
                Halaman sekolah SMA Harapan sudah terlihat sepi, tampaknya kegiatan belajar mengajar sudah di mulai. Dengan langkah santai Rara melewati gerbang, yang kebetulan tidak dijaga oleh satpam.
“Rara Rusdiantoro, berhenti kamu!” terdengar suara Kepala Sekolah menghentikan langkahnya.
“Ada apa bapak memanggil saya?” tanya Rara cuek.
“Sekarang sudah jam berapa? Ha?”
“Kalau jam tangan saya sih pak, sudah menunjukkan pukul setengah delapan”
“Berarti kamu sudah telat berapa menit?”
“30 menit, saya mau dihukum lagi??”
“Bersihkan seluruh kamar mandi di sekolah ini dan kamu tidak usah mengikuti pelajaran”
“Haduh bapak, kenapa hukumannya itu-itu saja. Gag ada yang lain apa?!”
“Sudah kerjakan atau kamu mau saya skors?”
“Iya pak, laksanakan” ucap Rara sambil tertawa.

****
“Kamu dihukum lagi sayang?” tanya Raka saat menjumpai Rara di kantin.
“Gila emang tuh kepsek, masak tiap hari aku dijadiin OB?!”
“Udahlah biarin aja. Oh ya ini aku bawain jatah kamu hari ini....” ucap Raka sambil menyodorkan bungkusan plastik berisi serbuk halus berwarna putih.




“Biar kamu gak stress sayang....” ucap Raka menambahkan.
“Buat temen-temen mana??”
“Ntar gampang aku cariin lagi”
“Thanks ya....”
“You are welcome”

****
                Pulang sekolah Rara langsung menuju ke kamar mandi. Perutnya terasa mual sekali dan kepalanya terasa sakit. Di kamar mandi Rara muntah-muntah. Tubuhnya terasa lemah sekali.
“Aku kenapa nih? Pasti kebanyakan mabuk malam itu...”pikir Rara.
Ia kemudian bergegas ke kamar untuk istirhat, namun ia sempat melihat kalender di dekat tempat tidurnya.
“Apa? Aku udah telat dua minggu? Jangan-jangan aku....” Rara tak berani melanjutkan kata-katanya.
Segera ia menuju kamar mamanya untuk mengambil tes kehamilan.
Sesaat setelah melihat hasil tes tersebut, Rara tercengang dan mulai menitikkan air mata.
“Aku hamil.....”ucap Rara lirih sambiul terus terisak.
Dengan rasa yang tidak karuan Rara menelfon Raka dan memintanya untuk bertemu di parkiran sekolah.

****
“Apa ? Kamu hamil??” ucap Raka terkejut.
“Iya Rak, kita harus gimana?” ucap Rara sambil terus menangis.
“Lebih baik kamu gugurin aja tuh bayi, kita ini masih muda Ra, masak mau nikah? Aku enggak sanggup!”
“Aku juga gak mau Rak, jadi aku harus nglakuin aborsi gitu?! Dosa Rak!”
“Dosa? Kamu pikir kita nglakuin kayak gitu gak dosa?”
“Tapi aku gak mau nambah dosa lagi Rak, udah cukup! Lebih baik kamu tanggung jawab...”ucap Rara memohon.
“Aku tetap gak mau!!! Kamu urus aja masalah itu sendiri!” ucap Raka kasar, lalu pergi meninggalkan Rara sendiri.
“Aku harus gimana Rak? Aku harus gimana?! Gimana aku ngomong sama mama? gimana temen-temen nanti? Raka.....kamu jahat banget!” ucap Rara lirih sambil berlinang air mata.
****
                Pagi menjemput malam, dan menggantikannya dengan cahaya matahari yang cerah. Embun pagi terlihat membasahi dedaunan, udara sejuk menerpa paras cantik seorang Rara yang sedang duduk di dekat jendela. Matanya terus mengeluarkan butiran-butiran air mata. Tak ada sedikitpun senyum di bibirnya. Di sampingnya tergeletak obat-obatan terlarang, yang tersisa hanya beberapa butir saja.
                Terdengar suara decit pintu kamar dibuka, ternyata mama Rara. Seperti biasa, dia mengantar sarapan untuk Rara.
“Selamat pagi Rara....” ucap mama lembut.
“Pagi ma...”ucap Rara lemah.
“Kamu sakit sayang?” tanya mama.
“Enggak ma” ucap Rara sambil beranjak dan memeluk mamanya.
“Kamu kangen sayang sama mama?”
“Ma, maafin aku....selama ini aku udah salah sama mama. Ma, maaf aku harus kecewain mama....”
“Maksud kamu apa Ra?”tanya mama heran.
“Aku....akuu hamil ma....” ucap Rara sambil menangis.
“Maafin mama Ra, maafin mama.....Selama ini mama gak jagain kamu dengan baik. Mama menyesal, hal yang paling mama takutkan terjadi juga. Maafin mama sayang, ayo kita lalui ini bersama-sama. Kamu jangan takut sayang...”
“Ma....aku harus gimana? Masa depanku sudah hancur, Raka tidak mau bertanggung jawab.”ucap Rara
“Tidak sayang masa depanmu belum hancur, sekarang kamu jaga kandungan kamu baik-baik. Setelah melahirkan nanti kamu harus pergi dan melanjutkan sekolahmu...” ucap mama sabar.
****
“Rara, makan dulu sayang” panggil mama sambil mengetuk pintu kamar Rara. Mama heran, tidak biasanya pintu kamar Rara terkunci seperti ini. Karena khawatir mama meminta papa untuk mendobrak pintu kamar. Mama menjerit histeris melihat Rara terkapar di lantai dengan mulut mengeluarkan busa.
“Rara...bangun sayang.....” ucap mama panik
Rara kemudian di bawa ke rumah sakit. Dia harus di opname beberapa hari karena terlalu banyak meminum obat penenang dan masih mengkonsumsi narkoba, hingga akhirnya dia overdosis. Keadaannya buruk, dia belum sadarkan diri.
****

               


Suasana kamar rumah sakit sunyi, mama Rara masih tertidur lelap di sofa, ketika terdengar suara Rara merintih dan memanggil mamanya. Mama terkejut dan langsung terbangun menghampiri Rara.
“Ma....Rara dimana? Kenapa Rara belum mati ma?”
“Rara, kamu di rumah sakit. Kamu gak boleh mati sayang, kasihan bayimu....”ucap mama menasehati.
“Rara, mama membawa kabar gembira. Raka mau menikahi kamu....”
“Mama tidak berbohong kan?” tanya Rara meyakinkan.
“Tidak sayang, setelah kamu keluar dari rumah sakit, Raka akan menikahi kamu.”
“Rara seneng ma, Raka mau bertanggung jawab...” ucap Rara.

****
1 tahun kemudian.......
“Dari mana aja kamu Rak, jam segini baru pulang?” tanya Rara pada suaminya.
“Bukan urusan kamu!”jawab Raka kasar.
“Kenapa kamu enggak pernah peduli sama aku Rak? Kita udah nikah dan udah punya anak, tapi kenapa sikap kamu masih seperti itu saja?!”
“Aku nikah karena terpaksa dan karena kasihan sama kamu! Gara-gara kamu semua impianku hancur!”
“Kamu pikir kamu saja yang hancur?! Aku juga Rak...!”
“Semua gara-gara kamu gak mau gugurin tuh anak!” ucap Raka sambil menunjuk anaknya yang terus saja menangis
“Udahlah Rak, kamu memang lelaki pengecut! Gak berani bertanggung jawab!” teriak Rara
Plaakkk........Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Rara, seketika itu pipi Rara memerah dan darah segar mengalir dari bibirnya yang terluka. Ini bukan kali pertama Raka melakukan tindakan semacam itu, hampir setiap amarahnya memuncak Rara selalu menjadi sasaran kemarahan Raka. Pernikahan dini yang dibina belum lama harus terus mengisahkan luka. Umur Raka dan Rara masih sama-sama muda, apalagi Raka harus bekerja menghidupi anak dan istrinya, sedangkan pekerjaan yang didapat pun gajinya tak seberapa, karena Raka tidak mempunyai ijazah SMA.
Karena tidak tahan dengan konisinya. Rara memutuskan untuk menjual anaknya, guna memenuhi kebutuhan hidup. Raka yang mengetahui hal itu tidak mencegah Rara, justru ia membantu Rara menjual darah daging mereka sendiri.
“Bagaimana, uang sudah kamu terima kan?”tanya Raka.
“Sudah, sekarang kita ke Pengadilan agama, kita urus surat cerai kita!”jawab Rara.
Akhirnya Raka dan Rara memutuskan untuk bercerai, tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing. Dan mereka pun berpisah. Rara tinggal di kontrakan dan bekerja sebagai salles, sedangkan Raka entah kemana.

****
                Terdengar suara pintu di ketuk sangat keras, Rara terkejut dan segera membukakan pintu. Begitu terkejutnya Rara melihat di hadapannya berdiri dua orang lelaki berpakaian preman.
“Maaf, bapak-bapak ini siapa?”
“Benar anda yang bernama Rara Rusdiantoro?”
“Iya saya sendiri...”jawab Rara heran.
“Anda ditangkap karena tuduhan penjualan anak dan pemakaian narkoba, ini surat penangkapannya!” ucap lelaki itu, yang ternyata adalah seorang polisi.
“Apa-apaan ini pak! Mana buktinya? Saya tidak bersalah!”teriak Rara. Dengan sigap polisi itu lalu memberogol kedua tangan Rara. Rara berusaha melawan, namun sia-sia, ia pasrah.
                Masih dengan perasaan yang tidak karuan, Rara masuk ke dalam mobil polisi. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Raka, mantan suaminya juga berada di dalam mobil tersebut.
“Raka??!”
“Maafkan aku Ra, sudah saatnya kita mengakhiri dosa ini dan kamu juga harus ikut bertanggung jawab...”ucap Raka lirih.

                                                                                               *****
~End~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar