Part 2
Sekitar
dua bulan kemudian...
Aku mulai ragu dengan perasaanku
pada Rio, hal itu mungkin karena kini Yoga, mantan kekasihku seakan-akan hadir
lagi dalam kehidupanku. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan, di satu sisi
aku ingin kembali pada Yoga tapi aku tidak bisa meninggalkan Rio begitu saja.
Semenjak pikiran-pikiran itu hadir, aku mulai menghindari Rio. Entahlah, aku
merasa bahwa aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Selama beberapa hari aku
mengacuhkan Rio, aku menghindarinya dan dia pun mulai bingung dengan sikapku.
Aku mengatakan padanya bahwa aku sedang ingin sendiri, aku butuh waktu untuk
memikirkan sesuatu. Sungguh, aku merasa bersalah pada Rio, dia seperti
menyalahkan dirinya sendiri karena sikapku yang berubah ini, dia menyangka
bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya sehingga membuatku seperti ini, dia
meminta maaf padaku. Ya Allah, bagaimana ini? Aku kalut, aku ingin pergi dari
situasi ini. Bagimana bisa aku harus menyakiti Rio demi Yoga. Berbagai nasehat
datang dari sahabat-sahabatku, mereka ingin aku segera kembali pada Rio. Namun,
di pikiranku hanya ada Yoga, egoku mulai tak terkendali, aku memutuskan untuk
mengakhiri hubunganku dengan Rio, entah hubungan apa yang harus aku akhiri tapi
yang jelas aku ingin Rio menghilangkan perasaannya padaku. Aku sebenarnya tidak
sampai hati mengatakan ini pada Rio, dia begitu menyayangiku, dia baik padaku,
dan dia ingin membuatku bahagia dengan menghapus masa laluku dengan Yoga. Dia
ingin menghapus kenanganku dengan Yoga, dia ingin aku melupakan Yoga, tapi
bagaimanapun aku tidak bisa melakukan itu. Aku masih mencintai Yoga.
Suatu
hari....
Seusai sekolah, aku menemui Rio, aku
mengajaknya bicara berdua, sudah jelas terlihat kesedihan pada wajah Rio, sudah
beberapa hari ini aku tidak berkomunikasi dengannya dan tiba-tiba hari ini aku
mengajaknya bertemu untuk membicarakan hal yang penting. Rio pasti sudah
merasakan sesuatu. Aku bingung harus bagaimana harus mengatakannya.
Akhirnya, aku mengungkapkan semua
yang terjadi padaku, dan dia hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.
Aku lalu meninggalkannya sendiri, entah apa yang dilakukannya setelah aku pergi
yang jelas, aku menangis, air mataku tak terbendung lagi. Aku merasa bersalah
pada Rio, jelas-jelas aku telah memberinya harapan, tapi kini aku justru
mematahkan harapannya. Aku telah membawanya terbang ke langit dan sekarang aku
menjatuhkannya dengan keras. Itu pasti menjadi pukulan berat bagi Rio. Aku
terus meminta maaf padanya dan dia berusaha bersikap baik-baik saja, padahal
aku tahu hatinya pasti hancur, sangat hancur.
#30HariMenulis#Day9
#30HariMenulis#Day9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar