Kamis, 15 Mei 2014

Sisi Lain Sebuah Rasa (2)



Part 2
Sekitar dua bulan kemudian...
            Aku mulai ragu dengan perasaanku pada Rio, hal itu mungkin karena kini Yoga, mantan kekasihku seakan-akan hadir lagi dalam kehidupanku. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan, di satu sisi aku ingin kembali pada Yoga tapi aku tidak bisa meninggalkan Rio begitu saja. Semenjak pikiran-pikiran itu hadir, aku mulai menghindari Rio. Entahlah, aku merasa bahwa aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Selama beberapa hari aku mengacuhkan Rio, aku menghindarinya dan dia pun mulai bingung dengan sikapku. Aku mengatakan padanya bahwa aku sedang ingin sendiri, aku butuh waktu untuk memikirkan sesuatu. Sungguh, aku merasa bersalah pada Rio, dia seperti menyalahkan dirinya sendiri karena sikapku yang berubah ini, dia menyangka bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya sehingga membuatku seperti ini, dia meminta maaf padaku. Ya Allah, bagaimana ini? Aku kalut, aku ingin pergi dari situasi ini. Bagimana bisa aku harus menyakiti Rio demi Yoga. Berbagai nasehat datang dari sahabat-sahabatku, mereka ingin aku segera kembali pada Rio. Namun, di pikiranku hanya ada Yoga, egoku mulai tak terkendali, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Rio, entah hubungan apa yang harus aku akhiri tapi yang jelas aku ingin Rio menghilangkan perasaannya padaku. Aku sebenarnya tidak sampai hati mengatakan ini pada Rio, dia begitu menyayangiku, dia baik padaku, dan dia ingin membuatku bahagia dengan menghapus masa laluku dengan Yoga. Dia ingin menghapus kenanganku dengan Yoga, dia ingin aku melupakan Yoga, tapi bagaimanapun aku tidak bisa melakukan itu. Aku masih mencintai Yoga.
Suatu hari....
            Seusai sekolah, aku menemui Rio, aku mengajaknya bicara berdua, sudah jelas terlihat kesedihan pada wajah Rio, sudah beberapa hari ini aku tidak berkomunikasi dengannya dan tiba-tiba hari ini aku mengajaknya bertemu untuk membicarakan hal yang penting. Rio pasti sudah merasakan sesuatu. Aku bingung harus bagaimana harus mengatakannya.
            Akhirnya, aku mengungkapkan semua yang terjadi padaku, dan dia hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Aku lalu meninggalkannya sendiri, entah apa yang dilakukannya setelah aku pergi yang jelas, aku menangis, air mataku tak terbendung lagi. Aku merasa bersalah pada Rio, jelas-jelas aku telah memberinya harapan, tapi kini aku justru mematahkan harapannya. Aku telah membawanya terbang ke langit dan sekarang aku menjatuhkannya dengan keras. Itu pasti menjadi pukulan berat bagi Rio. Aku terus meminta maaf padanya dan dia berusaha bersikap baik-baik saja, padahal aku tahu hatinya pasti hancur, sangat hancur.


#30HariMenulis#Day9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar