Jumat, 16 Mei 2014

Sisi Lain Sebuah Rasa (3-end)



Part 3

Hari berikutnya....
            Rio terlihat benar-benar murung di kelas, seperti tidak ada semangat sama sekali. Aku merasa sangat bersalah padanya, tidak seharusnya aku melakukan ini padanya. Waktu rasanya berjalan lambat, meskipun hanya kurang dari setahun aku lulus dari bangku SMA, tapi dengan adanya kejadian ini waktu seolah alot, membuatku terus menyesali perbuatanku. Aku heran dengan diriku sendiri, rasanya egoku semakin kuat saja dan seolah tanpa rasa bersalah aku menunjukkan kembali kedekatanku dengan Yoga. Aku masih menemui Yoga dan dia mengungkapkan masih menyayangiku. Aku merasa puas dengan keputusanku untuk menyudahi hubungan dengan Rio karena kini aku kembali pada Yoga. Betapa jahatnya diriku ini.
            Aku dan Yoga memang tidak berpacaran lagi tapi setidaknya aku tahu perasaannya yang masih menyayangiku. Aku berpikir hubungan kami akan kembali seperti dulu. Namun, ini tidak sperti yang aku bayangkan karena beberapa hari kemudian aku melihat Yoga pergi bersama cewek lain di depan mataku. Sakit, sakit sekali rasanya jika mengingat kata-katanya bahwa dia masih mencintaiku, tapi apa yang aku lihat sekarang menghancurkan perasaanku terhadapnya, sungguh ini sangat menyakitkan. Rasanya baru kali ini aku merasakan sakit yang begitu hebat hingga membuat dadaku terasa sesak. Aku hanya bisa menangis di pelukan sahabatku, sulit buatku menerima kenyataan ini.
            Aku masih sulit menerima bahwa Yoga telah menghancurkan perasaanku, tapi yang lebih sulit lagi, bagaimana bisa aku melihat Rio dengan begitu sabarnya mendengarkan ocehanku tentang Yoga, aku merasa aku sangat bodoh, bodoh, dan bodoh. Tidak seharusnya aku membuat Rio semakin sakit, tapi dia terus mendengarkan segala keluh kesahku, aku berpikir mungkin dalam benak Rio tersimpan rasa puas karena ternyata aku tersakiti lagi oleh Yoga. Tapi pikiran-pikiran itu segera aku hapus, karena aku yakin Rio tidak seperti itu.
            Sulit sekali menerima luka ini, rasanya lukaku baru saja  sembuh tapi kini aku terluka lagi dan jatuh di lubang yang sama. Dulu, Yoga memutuskan hubunganku secara sepihak dan dengan alasan yang tidak jelas, aku sudah merasa kecewa dengan semua itu padahal aku sudah yakin pada Yoga, tapi dia menghancurkan harapanku. Kini harus terulang lagi luka-luka itu. Aku terus menyalahkan diriku sendiri, apa aku yang terlalu lugu dan bodoh hingga aku bisa langsung percaya pada kata-kata Yoga.
            Waktu terus berjalan dan aku mulai menyadari hubunganku dengan Rio mulai merenggang, entah apa yang menjadikan jarak antara aku dan dia tapi yang jelas Rio semakin jauh, rasa-rasanya dia enggan untuk berhubungan lagi denganku, dan aku merasakan kehilangan seorang sahabat yang dulu begitu memahamiku. Semakin hari semakin jauh, bahkan tidak ada komunikasi sama sekali antara aku dan Rio.
            Aku mulai melupakan kejadian-kejadian yang telah lalu, kini aku sudah lulus dari SMA dan meninggalkan semua kenanganku di tempat itu. Aku dan Rio terpisah oleh jarak dan kita semakin jauh tanpa ada komunikasi. Aku memulai hari-hari baru di tempat yang baru, aku mencoba melupakan segalanya. Mula-mula aku bisa melupakan Yoga, tapi pikiranku tak bisa lepas dari Rio. Sosoknya selalu hadir dalam pikiranku, tak henti-hentinya aku hanya bisa mencari tahu kegiatannya lewat sosial media dan itu sangat menyakitkan. Entah kenapa kini aku merasa ingin kembali pada Rio. Aku merindukannya, tapi aku tak seharusnya seperti ini, bagaimana bisa aku merindukan seseorang yang telah aku patahkan hatinya. Aku hanya bisa menutup rapat semua rasaku, anganku, dan rinduku padanya. Maafkan aku Rio, sejujurnya aku ingin kembali dan melalui hari-hariku bersamamu lagi, tapi itu semua tidak mungkin. Kini keadaannya tak lagi sama, dia telah enggan bersamaku. Kepercayaannya terhadapku telah hancur oleh sikapku sendiri.
               Bagaimanapun hati yang telah tersakiti sulit untuk memaafkan dan menerima kembali :). Ibaratnya seperti kertas yang sudah disobek dan akan disatukan lagi, terkadang ada bagian yang keliru, terkadang ada bagian yang hilang, dan terkadang pula ada bagian yang rusak. Kertas-kertas itu walaupun sudah disatukan kembali dengan lem yang sangat kuat tetap saja ada bekas patahan-patahan yang membuatnya terlihat tidak sempurna. Begitu pula dengan hati manusia yang sudah terluka dan berusaha untuk baik kembali :)


#30HariMenulis#Day10


Tidak ada komentar:

Posting Komentar