Part 1
“Merindukanmu,
bagaimana bisa aku merindukan orang yang telah aku lukai hatinya? Entahlah, aku
hanya bisa terus membayangkan wajahnya, wajah yang terluka. Aku ini bodoh atau
apa? Bisa-bisanya menyia-nyiakan orang yang jelas-jelas tulus mencintaiku dan
lebih memilih kembali pada orang yang jelas-jelas telah menghancurkan hatiku
hingga benar-benar tak bisa bangkit”. Pikiran-pikiran itu selalu ada dalam
benakku, entah akan sampai kapan, rasanya aku menyesal meninggalkanmu demi
orang yang hanya akan mempermainkan perasaanku.
Setiap kali aku melihat masa laluku,
rasa-rasanya aku ingin memutar waktu dan kembali untuk memperbaiki semuanya.
Rio, dia adalah teman sekaligus
sahabat yang selalu ada untukku, mampu memahamiku dan menerima
tindakan-tindakan bodohku. Dia yang selalu membelaku saat aku dicemooh karena
betapa lolanya diriku ini, bukan hanya itu saja aku memiliki sifat
plin-plan dan bisa dikatakan aku orangnya gak bisa slow menghadapi
sesuatu. Ya...begitulah aku, tapi dia tidak akan mempermasalahkan itu.
Awalnya, aku dan Rio hanyalah teman
biasa, tapi lama-kelamaan sepertinya ada yang berbeda dari sikapnya, dia mulai
menunjukkan perhatian yang lebih dari seorang sahabat dan sepertinya dia selalu
ingin di sisiku, pada waktu itu aku menganggapnya wajar tapi lantas aku mulai
penasaran, kemudian aku mulai memancing lewat obrolan-obrolan kecil dan
ternyata dia menyukaiku. Aku gugup, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Di sisi lain aku masih menyimpan perasaan pada mantan kekasihku. Tapi, entah
kenapa aku merasa nyaman bersama Rio, ya Allah perasaan apa ini?
Rio membutuhkan jawabanku dan
rasanya aku tidak bisa menolak hal itu. Akhirnya, aku menjalani hubungan dengan
Rio, tapi aku tidak tahu hubungan apa ini namanya, aku bahkan tidak berpacaran
dengannya, aku hanya ingin menjalani hubungan tanpa ada status, setidaknya kita
tahu perasaan masing-masing.
#30HariMenulis#Day8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar