Televisi "Guru" Kekerasan
Hai
sahabat, dimana pun kalian berada semoga selalu dalam lindunganNya, amin :). Kesempatan kali ini aku akan
membahas mengenai kekerasan dan media terutama televisi. Sahabat pasti tidak
asing lagi kan dengan berita mengenai seorang siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD)
yang dianiaya oleh kakak kelasnya sendiri karna tidak sengaja menjatuhkan
makanan seharga Rp 1000,00 yang akhirnya meninggal dunia. Kalau kita memang
peka dengan kejadian-kejadian seperti itu rasanya sungguh ironis, uang seribu
rupiah harus dibayar dengan nyawa dan yang lebih mencengangkan lagi mereka
masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kenapa kasus itu bisa terjadi?
Tentunya banyak faktor yang mendorong perlakuan seperti itu dilakukan oleh
seorang siswa sekolah dasar (SD). Salah satu faktor yang sangat berperan
tentunya dari media, bagaimanapun media elektronik seperti televisi kini lebih
senang untuk menampilkan beragam adegan kekeran yang sangat mudah mempengaruhi
anak-anak, tidak hanya melalui televisi, anak-anak juga banyak meniru adegan kekerasan
dari game atau play station. Hal seperti ini bisa terjadi
juga karena kurangnya pengawasan orang tua, seyogyanya orang tua selalu
mendampingi anak dalam menonton acara televisi, karena televisi benar-benar
media yang sangat mudah untuk dijadikan sebagai “guru” kekerasan.
Anak-anak zaman sekarang lebih
mengeherankan lagi menurutku, karena mereka justru lebih suka menonton acara
televisi baik itu film, sinetron, bahkan kartun yang mengandung unsur kekerasan.
Seperti halnya adikku sendiri, ketika menonton sebuah film luar yang berkaitan
dengan kungfu dan kekerasan dia cenderung terus memperhatikan dan merasa
senang apabila ada salah satu pemain yang terluka, aku saja sampai heran kenapa
bisa begitu dan ketika akan diganti ke acara lain karena menurutku film itu
tidak pantas untuk ditonton oleh anak usia 6 tahun justru adikku itu merengek
tidak mau diganti channelnya, hal itu membuatku lebih terkejut, kenapa anak
seusia 6 tahun lebih menyukai film-film action yang syarat akan
kekerasan, sungguh ironis.
Televisi di satu sisi memang menjadi
sarana hiburan dan informasi, namun di sisi lain televisi juga bisa menjadi “guru”
kekerasan bagi anak-anak. Anak-anak cenderung lebih mudah meniru adegan-adegan
yang disuguhkan televisi, maka dari itu sebaiknya buat sahabat yang punya adik,
keponakan, ataupun saudara yang umurnnya masih balita atau mungkin dibawah 10
tahun harap untuk diawasi ketika sedang menonton televisi dan memberikan
pengertian kepada mereka bahwa adegan-adegan tersebut tidak patut untuk ditiru
dan arahkan anak-anak pada acara televisi yang mengandung unsur pendidikan,
karena selain mengandung unsur pendidikan juga bisa dijadikan sarana hiburan.
Hal tersebut justru akan membuat anak menambah pengalaman dan tentunya daya
pikirnya semakin luas.
Mungkin cukup sampai di sini aja
sharing-sharing kita, sudah seyogyanya kita peka dengan kedaan sekitar kita,
mungkin memang kita tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan perubahan, tapi
setidaknya jika kita bisa memberikan pengawasan dan pengarahan pada adik,
keponakan, atau saudara kita , berarti kita telah menyelamatkan sebagian kecil
generasi penerus bangsa. Jangan sampai penerus bangsa selanjutnya lebih pro
pada kekerasan, karena kita cinta damai :)
#30HariMenulis#Day4
#30HariMenulis#Day4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar