Sabtu, 10 Mei 2014

Televisi “guru” Kekerasan



      Televisi "Guru" Kekerasan

       Hai sahabat, dimana pun kalian berada semoga selalu dalam lindunganNya, amin :). Kesempatan kali ini aku akan membahas mengenai kekerasan dan media terutama televisi. Sahabat pasti tidak asing lagi kan dengan berita mengenai seorang siswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) yang dianiaya oleh kakak kelasnya sendiri karna tidak sengaja menjatuhkan makanan seharga Rp 1000,00 yang akhirnya meninggal dunia. Kalau kita memang peka dengan kejadian-kejadian seperti itu rasanya sungguh ironis, uang seribu rupiah harus dibayar dengan nyawa dan yang lebih mencengangkan lagi mereka masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kenapa kasus itu bisa terjadi? Tentunya banyak faktor yang mendorong perlakuan seperti itu dilakukan oleh seorang siswa sekolah dasar (SD). Salah satu faktor yang sangat berperan tentunya dari media, bagaimanapun media elektronik seperti televisi kini lebih senang untuk menampilkan beragam adegan kekeran yang sangat mudah mempengaruhi anak-anak, tidak hanya melalui televisi, anak-anak juga banyak meniru adegan kekerasan dari game atau play station. Hal seperti ini bisa terjadi juga karena kurangnya pengawasan orang tua, seyogyanya orang tua selalu mendampingi anak dalam menonton acara televisi, karena televisi benar-benar media yang sangat mudah untuk dijadikan sebagai “guru” kekerasan.
            Anak-anak zaman sekarang lebih mengeherankan lagi menurutku, karena mereka justru lebih suka menonton acara televisi baik itu film, sinetron, bahkan kartun yang mengandung unsur kekerasan. Seperti halnya adikku sendiri, ketika menonton sebuah film luar yang berkaitan dengan kungfu dan kekerasan dia cenderung terus memperhatikan dan merasa senang apabila ada salah satu pemain yang terluka, aku saja sampai heran kenapa bisa begitu dan ketika akan diganti ke acara lain karena menurutku film itu tidak pantas untuk ditonton oleh anak usia 6 tahun justru adikku itu merengek tidak mau diganti channelnya, hal itu membuatku lebih terkejut, kenapa anak seusia 6 tahun lebih menyukai film-film action yang syarat akan kekerasan, sungguh ironis.
            Televisi di satu sisi memang menjadi sarana hiburan dan informasi, namun di sisi lain televisi juga bisa menjadi “guru” kekerasan bagi anak-anak. Anak-anak cenderung lebih mudah meniru adegan-adegan yang disuguhkan televisi, maka dari itu sebaiknya buat sahabat yang punya adik, keponakan, ataupun saudara yang umurnnya masih balita atau mungkin dibawah 10 tahun harap untuk diawasi ketika sedang menonton televisi dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa adegan-adegan tersebut tidak patut untuk ditiru dan arahkan anak-anak pada acara televisi yang mengandung unsur pendidikan, karena selain mengandung unsur pendidikan juga bisa dijadikan sarana hiburan. Hal tersebut justru akan membuat anak menambah pengalaman dan tentunya daya pikirnya semakin luas.
            Mungkin cukup sampai di sini aja sharing-sharing kita, sudah seyogyanya kita peka dengan kedaan sekitar kita, mungkin memang kita tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan perubahan, tapi setidaknya jika kita bisa memberikan pengawasan dan pengarahan pada adik, keponakan, atau saudara kita , berarti kita telah menyelamatkan sebagian kecil generasi penerus bangsa. Jangan sampai penerus bangsa selanjutnya lebih pro pada kekerasan, karena kita cinta damai :)

#30HariMenulis#Day4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar